Wajah NU

Wajah NU

ILUSTRASI Wajah NU.-Arya/AI-Harian Disway-

ADA yang menarik dari susunan PBNU masa bakti 2026–2031. Apa itu? Ada banyak kalangan profesional yang menempati posisi strategis dalam kepengurusan NU hasil Muktamar Ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, tersebut. 

Saya meminta ChatGPT untuk menelusuri latar belakang dari 210 pengurus yang baru saja diumumkan. Menurut hasil penelusuran, ada 19 persen nama yang berasal dari kalangan profesional, politisi, dan pejabat publik.

Kalau ditambah dengan mereka yang berlatar belakang pengusaha, ada 21 persen. Ketua Umum KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin dikenal sebagai pengusaha. Meski, ia juga pemimpin Ponpes Tebuireng. Demikian juga Sekjen Gudfan Arif Ghofur.

Angka 21 persen bukan jumlah kecil. Bisa diduga ada perluasan sumber otoritas kepemimpinan di ormas Islam terbesar di dunia ini. Dari yang tadinya mengandalkan otoritas kiai dan pesantren, kini melebar ke kalangan profesional, pengusaha, politisi, dan pejabat publik.

BACA JUGA:NU Bukan Nahdlatul Umara

BACA JUGA:Rumah Besar NU

Apalagi, sebagian besar dari mereka menempati jabatan strategis. Mulai pengurus harian sampai penggerak organisasi. Katib aam PBNU, yang selama ini dipegang seorang kiai dari pesantren, kini diisi Prof Mohammad Nuh. Ia mantan rektor ITS dan menteri.

Bendahara umum dipercayakan kepada Prof Ainun Naim. Guru besar UGM yang pernah menjadi direktur Pertamina dan sekretaris jenderal di Kementerian Pendidikan. Ada juga nama Kwandra Lukistan, profesional dan pengusaha industri kreatif. Juga, Ipang Wahid.

Di luar itu, ada nama Juri Ardiantoro, aktivis NU yang pernah menjadi komisioner KPU dan kini wakil menteri sekretaris negara. Ada politikus santri seperti Mensos Saifullah Yusuf, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, dan para kepala daerah seperti Gus Taj Yasin Maimoen.

Bagaimana selebihnya? Tentu sisanya tidak bisa langsung disimpulkan semata-mata dari kalangan pesantren. Sebab, identitas kiai, akademisi, pengusaha, dan pejabat sering beririsan. Ada pimpinan pesantren yang jadi pejabat dan pengusaha.

BACA JUGA:Mikrolet NU

BACA JUGA:Kelas Baru NU

Sebaran sumber otoritas di PBNU sekarang memang sebuah keniscayaan. Sebab, basis sosial NU juga telah berubah. Mereka bukan hanya santri dari pesantren. Melainkan juga banyak santri yang memperoleh pendidikan umum sejak empat dekade lalu.

Semestinya, lapis baru NU itu sudah terakomodasi dalam kepemimpinan NU sejak lama. Ketika gelombang keluarga santri punya akses ke pendidikan umum. Yang kemudian menghasilkan para profesional yang tersebar di berbagai lembaga profesi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: