Wajah NU
ILUSTRASI Wajah NU.-Arya/AI-Harian Disway-
Di perusahaan, kewenangan biasanya lebih jelas. Targetnya bisa dihitung. Di organisasi seperti NU, orang datang dengan riwayat pengabdian, jaringan, kebiasaan, dan sumber kewibawaan yang berbeda-beda.
Maka, diperlukan kemampuan mengelola perbedaan itu. Profesional perlu memahami cara hidup organisasi. Sebaliknya, organisasi perlu memberikan ruang agar keahlian mereka bisa digunakan.
Jangan sampai ahli keuangan hanya diminta mencari sumbangan. Akademisi hanya diminta mengisi seminar. Pengusaha hanya diminta membiayai acara. Padahal, kemampuan mereka bisa digunakan untuk membenahi cara organisasi bekerja.
Saya kira ini tantangan yang tidak kecil. Menghadirkan orang ahli relatif lebih mudah daripada memberikan tempat kepada keahliannya dalam pengambilan keputusan. Apalagi, harus menggabungkan keahlian dengan seni berorganisasi.
Sebagai organisasi yang selama ini dikenal kuat secara jamaah, NU masih punya tantangan memperkuatnya sebagai jam’iyah. Artinya, bagaimana membuat besarnya jamaah menjadi kekuatan jam’iyah yang solid.
Masuknya para profesional harus berujung pada pembenahan tata kelola. Tugas jelas. Keuangan transparan. Hasil kerja bisa diukur. Dengan begitu, besarnya warga NU bisa dikonversi menjadi kekuatan sosial, ekonomi, dan politik kebangsaan yang solid.
Lalu, bagaimana dengan politisi dan pejabat publik?
Ini juga menarik. Mereka mempunyai akses kepada kebijakan dan sumber daya negara. Akses itu bisa membantu memperjuangkan kebutuhan masyarakat. Tetapi, kedekatan dengan kekuasaan juga membutuhkan kehati-hatian.
Jangan sampai warga melihat NU hanya dekat ketika membutuhkan suara. Atau, pengurus lebih sibuk menjaga hubungan dengan elite daripada mendengar keluhan jamaahnya sendiri.
Orang NU yang menjadi pejabat tentu patut dibanggakan. Namun, kebanggaan itu akan lebih bermakna kalau jabatannya menghasilkan pelayanan yang adil. Termasuk kepada warga yang berbeda organisasi, agama, dan pilihan politik.
Di situlah NU bisa menunjukkan makna kebangsaannya. Melahirkan orang yang membawa nilai pengabdian ke ruang publik. Orang yang bisa menjaga amanah meski tidak sedang berada di lingkungan organisasinya.
Selanjutnya, wajah baru NU jangan sampai hanya bisa dirasakan dan dibaca dari Jakarta. Ia harus terasa sampai ke cabang dan ranting. Sampai ke pesantren kecil. Sampai ke kampung tempat warga menghadapi persoalan sehari-hari.
Seorang petani tak akan memikirkan siapa yang menjadi wakil ketua umum. Ia lebih memikirkan pupuk, hasil panen, dan harga jual. Seorang ibu mungkin tak mengikuti susunan bendahara. Ia ingin anaknya bisa sekolah dan keluarganya memperoleh pelayanan kesehatan.
Kalau keahlian para pengurus sampai kepada mereka, susunan baru itu akan memperoleh makna. Kalau berhenti di ruang rapat, perubahan hanya akan menjadi pengetahuan kalangan elite.
Warga berharap agar NU mampu menjembatani kehidupan umat dengan perubahan zaman. Memahami kegelisahan anak muda. Mendampingi keluarga. Menguatkan pendidikan. Membuka kesempatan ekonomi. Tetap menjadi tempat bertanya ketika hidup terasa susah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: