Deep Learning untuk Memahami Peristiwa G-30-S/PKI
ILUSTRASI Deep Learning untuk Memahami Peristiwa G-30-S/PKI.-Arya/AI-Harian Disway-
Selain nama-nama besar yang menghiasi ilmu sejarah level dunia, negeri tercinta juga memiliki banyak sejarawan hebat. Salah satunya adalah Kuntowijoyo (1943–2005). Bahkan, Kuntowijoyo bukan hanya sejarawan, melainkan juga sastrawan dan budayawan ternama.
Dalam buku Pengantar Ilmu Sejarah (1995), Kuntowijoyo memaknai sejarah sebagai usaha merekonstruksi atau membangun kembali masa lalu untuk kepentingan masa mendatang. Pandangan itu paralel dengan ajaran Al-Qur’an yang memerintahkan umat untuk mempelajari sejarah agar dapat mengambil pelajaran (ibrah) dan hikmah.
Kalam Ilahi yang memerintahkan untuk mempelajari sejarah di antaranya adalah Al-Qur’an surah Ar-Rum: 42, Yusuf:111, Al-A’raf: 176, dan Al-Hasyr: 18. Beberapa ayat itu menjelaskan pentingnya memperhatikan apa yang telah diperbuat umat terdahulu untuk menjadi bekal mewujudkan kehidupan hari esok atau masa depan.
Pemaknaan yang sangat reflektif itu terasa sejalan dengan prinsip trilogi dalam pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Seperti dipahami, pendekatan pembelajaran mendalam menekankan pentingnya tiga pengalaman belajar yang saling berkesinambungan: memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.
Melalui pembelajaran mendalam, setiap guru dan murid penting diajak untuk menjadikan peristiwa masa lalu sebagai cermin. Becermin atau refleksi sangat penting supaya guru-murid tidak mempelajari sejarah dengan sekadar mengingat peristiwa, pelaku, waktu kejadian, dan tempat. Dampaknya, pembelajaran sejarah mengalami kejenuhan.
Padahal, murid harus menyadari arti pentingnya belajar sejarah (mindful learning). Pembelajaran setiap peristiwa bersejarah yang menentukan perjalanan bangsa juga harus bermakna dan kontekstual (meaningful learning). Pembelajaran sejarah akan lebih menarik jika didukung metode pembelajaran yang menggembirakan (joyful learning).
Tiga pilar pendekatan pembelajaran mendalam itu dapat diimplementasikan guru dan murid tatkala mempelajari peristiwa G-30-S/PKI. Dengan begitu, kita mampu menempatkan G-30-S/PKI sebagai peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa secara lebih jujur, autentik, dan tidak menjadikan komoditas politik.
Memaknai G-30-S/PKI
Sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI) bermula dari perkumpulan Indische Social Democratische Vereniging (ISDV). ISDV berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 23 Mei 1920. Para ideolog komunisme dan ISDV kemudian beralih menjadi aktivis politik. Mereka berjuang untuk membesarkan PKI.
Hasilnya, dalam pemilihan umum pertama pada 1955, perolehan suara PKI mencapai 16,36 persen. PKI menempati posisi empat besar di bawah PNI (22,32 persen), Masyumi (20,92 persen), dan NU (18,41 persen). Dengan dukungan politik yang signifikan itu, PKI mulai menanamkan pengaruh di berbagai segi.
PKI juga menjanjikan kesejahteraan dan keadilan sosial yang lebih baik. Namun, faktanya, PKI justru menghadirkan kondisi yang mengerikan. Salah satu buktinya adalah pemberontakan PKI pada 1948 yang disertai pembunuhan terhadap banyak ulama. PKI juga melakukan pemberontakan yang dikenal dengan G-30-S/PKI pada 1965.
Pemberontakan G-30-S/PKI memakan banyak korban. Sejumlah jenderal TNI Angkatan Darat dibunuh secara keji. Pengalaman sejarah yang memilukan itu tidak boleh terlupakan. Pada konteks itulah pemerintah penting memperingati G-30-S/PKI. Bahkan, pada masa Orde Baru, pemerintah membuat film dokumenter G-30-S/PKI.
Pemerintah Orde Baru juga mewajibkan semua televisi menayangkan film G-30-S/PKI. Hal itu dilakukan sebagai pengingat sekaligus pelajaran bagi generasi bangsa terhadap bahaya PKI. Setelah memasuki era reformasi, tayangan film G-30-S/PKI sempat ditiadakan.
Sebagai partai politik, PKI memang telah dibubarkan. Namun, sebagai ideologi, komunisme bisa jadi terus tumbuh dan berkembang. Kesadaran itu penting karena memberangus ideologi bukan pekerjaan mudah. Ideologi merupakan seperangkat nilai yang dijadikan pedoman suatu gerakan untuk mencapai tujuan (Ball dan Dagger, Political Ideologies and the Democratic Ideal, 1995).
Karena berkaitan dengan nilai-nilai yang dipedomani, ideologi bersifat laten. Jika kondisi memungkinkan, ideologi akan bermanifes dalam bentuk gerakan. Bahaya laten ideologi komunis itulah yang harus diwaspadai semua komponen bangsa. Ada sebagian komponen bangsa yang meragukan kebangkitan komunisme. Menurut kelompok itu, di negara kelahirannya, komunisme telah runtuh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: