Menanam Karakter Kebangsaan dari Langkah Kecil di Museum

Menanam Karakter Kebangsaan dari Langkah Kecil di Museum

ILUSTRASI Menanam Karakter Kebangsaan dari Langkah Kecil di Museum.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Cinta tanah air bukanlah nilai yang tiba-tiba tumbuh ketika seseorang beranjak dewasa. Rasa bangga terhadap bangsa, penghargaan terhadap sejarah, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial merupakan karakter yang perlu ditanamkan sejak usia dini. 

Pendidikan karakter kebangsaan tidak cukup hanya disampaikan melalui buku pelajaran, lagu nasional, atau upacara bendera. Anak-anak juga perlu diberi kesempatan untuk mengenal bangsanya melalui pengalaman langsung yang dekat dengan dunia mereka.

Di tengah perkembangan pendidikan modern, sekolah-sekolah swasta di Surabaya makin kreatif menghadirkan kegiatan pembelajaran di luar kelas. 

Program outbound menjadi salah satu kegiatan yang diminati karena memberikan pengalaman bermain, bersosialisasi, dan belajar secara langsung. Namun, kegiatan tersebut sering kali lebih berorientasi pada permainan ketangkasan, wisata rekreasi, atau aktivitas fisik semata.

BACA JUGA:Said Abdullah Dukung Rumah Tahfidz Al-Qur'an Puan Maharani di Malang untuk Pendidikan Karakter

BACA JUGA:Pendidikan dan Penguatan Karakter Berbasis MBG

Tentu tidak ada yang salah dengan kegiatan tersebut. Bermain merupakan bagian penting dari tumbuh kembang anak. Akan tetapi, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: mengapa program outbound sekolah, khususnya untuk anak usia playgroup dan pendidikan anak usia dini (PAUD), tidak sekaligus dimanfaatkan untuk mengenalkan sejarah dan menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air?

Susy memandang bahwa pendidikan karakter cinta tanah air perlu dikembangkan melalui pendekatan komunikasi yang sederhana, menyenangkan, dan sesuai tahap perkembangan anak. Salah satu langkah nyata adalah memasukkan kunjungan museum dan tempat bersejarah ke dalam program pembelajaran luar kelas sekolah swasta di Surabaya.

Surabaya sebagai Ruang Belajar Sejarah yang Hidup

Surabaya memiliki identitas kuat sebagai Kota Pahlawan. Kota itu menyimpan berbagai peninggalan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Semangat keberanian, persatuan, pengorbanan, dan nasionalisme bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan warisan nilai yang seharusnya terus hidup dalam kehidupan generasi penerus.

Tugu Pahlawan, Museum Sepuluh Nopember, Gedung Nasional Indonesia, serta berbagai kawasan bersejarah lainnya merupakan potensi pendidikan yang berharga. Tempat-tempat tersebut tidak seharusnya hanya menjadi tujuan wisata atau lokasi kunjungan bagi pelajar sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Anak usia dini pun dapat diperkenalkan pada sejarah melalui pendekatan yang sesuai dengan kemampuan mereka.

BACA JUGA:Deepfake Bisa Membunuh Karakter Seseorang

BACA JUGA:Darurat Pendidikan Karakter, Literasi, dan Kebahagiaan Gen Z

Bayangkan sekelompok anak PAUD mengunjungi kawasan Tugu Pahlawan dengan didampingi guru dan orang tua. Mereka tidak harus memahami kronologi Pertempuran 10 November 1945 secara mendalam. Cukup kenalkan bahwa tempat tersebut dibangun untuk mengenang orang-orang yang berjuang demi Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: