Deep Learning untuk Memahami Peristiwa G-30-S/PKI

Deep Learning untuk Memahami Peristiwa G-30-S/PKI

ILUSTRASI Deep Learning untuk Memahami Peristiwa G-30-S/PKI.-Arya/AI-Harian Disway-

GERAKAN 30 September (G-30-S)/PKI dikenang sebagai peristiwa penting dalam sejarah perjalanan bangsa. Sebagai bagian dari proses pembelajaran, kita tidak boleh melupakan peristiwa yang telah menghadirkan kengerian luar biasa tersebut. Bung Karno (Soekarno) pun mengingatkan, ”jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (jasmerah)”.

Dengan demikian, mempelajari sejarah perjalanan bangsa sangat penting, termasuk mempelajari peristiwa G-30-S/PKI. Karena itulah, pemerintah mengimbau masyarakat dan instansi untuk mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang pada 30 September sebagai tanda berkabung untuk mengenang para korban peristiwa G-30-S/PKI. 

Substansi pernyataan Bung Karno sejalan dengan pandangan dua filsuf Yunani kuno sekaligus sejarawan besar dunia, yakni Herodotus (484–425 SM) dan Thucydides (456–396 SM). Dua filsuf itu memahami sejarah sebagai filsafat yang mengajarkan makna kehidupan melalui berbagai eksemplar atau contoh peristiwa masa lalu manusia. 

Makna tersebut merujuk pada ungkapan yang populer di kalangan sejarawan dan filsuf sejarah: history is philosophy teaching by examples. Pernyataan itu dapat dipahami bahwa melalui sejarah kita belajar dari masa lalu untuk menata masa kini dan masa depan.

BACA JUGA:Program Deep Learning Kemendikdasmen Dinilai Baik, Surveinya 75,1 Persen

BACA JUGA:Deep Learning Jadi Kunci Inovasi Pembelajaran Abad Ke-21

Pandangan lebih sosiologis mengenai sejarah diberikan sejarawan muslim Ibnu Khaldun (1332–1406). Melalui karya monumentalnya, The Muqaddimah an Introduction to the History of the World (2019), Ibnu Khaldun menyatakan sejarah bukan sekadar kumpulan kisah atau dongeng, melainkan rekonstruksi peradaban manusia beserta proses perubahan, watak sosial, serta sebab dan akibatnya.

Menurut Ibnu Khaldun, sejarah penting dipelajari karena dapat membuat seseorang mengenal bangsa-bangsa terdahulu dan peradaban mereka. 

Pemaknaan sejarah dengan menggunakan perspektif sosiologi modern (’ilmu al-’umran) membuat takjub pendiri Facebook Mark Zuckerberg. Dalam agenda A Year of Books, Zuckerberg pun memasukkan The Muqaddimah dalam daftar bacaan wajib era digital. 

Untuk diketahui, A Year of Books merupakan sebuah komunitas klub buku digital berskala dunia yang diinisiasi Mark Zuckerberg pada tahun 2015 di Facebook. Komunitas itu dibentuk untuk membaca buku-buku baru atau lama sepanjang masih kontekstual. 

BACA JUGA:Isu G-30-S PKI, Bisa sampai Seabad

BACA JUGA:5 Fakta Kontroversial Film G30S/PKI yang Masih Diperdebatkan

Fokus buku yang dipilih berpusat pada pembelajaran mengenai budaya baru, kepercayaan, sejarah, dan teknologi di dunia.

G-30-S/PKI sebagai Cermin

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: