Menagih Aksi Perempuan Berdaya
ILUSTRASI Menagih Aksi Perempuan Berdaya.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Misalnya, membuat undang-undang yang tegas memblokir judi online, menyediakan pendidikan gratis yang berbasis akhlak, serta menjamin lapangan kerja yang layak. Sebagaimana janji Allah dalam surah Al-A’raf ayat 96, keberkahan dari langit dan bumi hanya akan tercurah apabila penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa secara kolektif.
Menatap Peran Perempuan ICMI
Sebagai wadah berkumpulnya para ilmuwan, pendidik, dan praktisi perempuan muslimah di Jawa Timur, pada Sabtu, 26 September 2026, di Surabaya, telah dilakukan pelantikan pengurus DPW Perempuan ICMI Jawa Timur periode 2026–2031. DPW Perempuan ICMI Jatim itu memiliki amanah besar untuk mengarsiteki perubahan secara nyata dan terukur melalui tiga peran strategis.
Peran pertama, bertindak sebagai pusat pemikiran dan solusi. Perempuan ICMI tidak boleh hanya pandai mengkritik pemerintah di media sosial tanpa memberikan jalan keluar. Kita harus turun meluncurkan riset berbasis data yang tajam.
Sebagai contoh, ketika angka perceraian tinggi, hendaknya tidak sekadar menyalahkan media sosial, tetapi merumuskan modul bimbingan pranikah yang komprehensif, mencakup manajemen keuangan keluarga hingga psikologi komunikasi Islam, lalu menyodorkannya kepada Kementerian Agama sebagai rekomendasi kebijakan resmi.
Peran kedua, menegakkan kepemimpinan moral dan edukasi publik. Hasil riset dan jurnal akademis yang rumit harus mampu diterjemahkan menjadi bahasa yang merakyat dan menyentuh hati.
Misalnya, sebagai pengganti menjelaskan teori ekonomi Islam secara rumit, kita membuat program edukasi literasi keuangan syariah untuk ibu-ibu majelis taklim, mengajari mereka cara mengelola anggaran rumah tangga dan terhindar dari jebakan pinjaman online.
Lewat media sosial, ruang diskusi, dan mimbar edukasi, kita tiupkan pemahaman bahwa Islam adalah jawaban atas krisis kehidupan sehari-hari.
Peran ketiga, menjadi penggerak dan pengawal kebijakan. Perempuan ICMI tidak boleh merasa nyaman duduk di ”menara gading” kampus atau kantor, tetapi sebaiknya harus bergerak dengan menjalin kolaborasi dengan tokoh masyarakat, organisasi perempuan, hingga pembuat undang-undang.
Contoh konkretnya, ketika pemerintah menyusun rancangan peraturan daerah tentang perlindungan anak dan keluarga, Perempuan ICMI harus hadir mengawal proses tersebut agar pasal-pasal yang dihasilkan benar-benar melindungi moral anak bangsa dan tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Menyongsong Fajar Keselamatan Hakiki
Wahai para perempuan, para ibu yang mendidik generasi, para guru, dosen, peneliti, serta para penentu arah kebijakan! Panggilan yang kita dengar hari ini bukanlah sekadar imbauan formal, melainkan jeritan kebutuhan zaman yang teramat mendesak. Kita tidak diciptakan untuk sekadar menjadi penonton yang terpaku menyaksikan fondasi moral bangsa ini pelan-pelan runtuh.
Di dalam genggaman tangan muslimah, terdapat potensi ilmu yang mampu menerangi kegelapan, keagungan akhlak yang menenteramkan jiwa, serta ketegasan kepemimpinan yang sanggup mengarahkan perjalanan bangsa. Seorang ibu yang cerdas dan bertakwa adalah sekolah pertama bagi calon-calon pemimipin masa depan.
Dengan terus menyatukan ketaatan individu, keberanian kontrol sosial masyarakat, dan ketegasan negara dalam mengemban aturan Allah, kita meyakini bahwa dari tengah krisis moral saat ini, kehidupan masyarakat yang tenteram, adil, dan sejahtera pasti bisa kita wujudkan bersama.
Selamat berproses, bergerak, dan berkarya, melanjutkan garis perjuangan. Tetaplah melangkah dengan teguh, menjadi muslimah yang berdaya, menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar, dan membimbing masyarakat menuju tatanan kehidupan yang diridai Allah SWT. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: