Media Sosial, Hidup, dan Proses Kedewasaan
ILUSTRASI Media Sosial, Hidup, dan Proses Kedewasaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Kondisi itu membutuhkan individu yang mampu menggunakan ”suara pertama”, suara batin yang membentuk respons unik kita terhadap dunia.
Daniel Lapsley dan Ryan W (2015), psikolog dari University of Notre Dame, menyebutkan bahwa kehidupan dewasa sebagai ”titik nol” dalam perjuangan mencapai otonomi rasional.
BACA JUGA:Pembatasan Media Sosial untuk Anak: Perlindungan atau Pengekangan Kebebasan?
BACA JUGA:Nyinyir Itu Tua dan Media Sosial Membuatnya Terlihat Muda
Otonomi itu mempersiapkan manusia dari remaja untuk menuju transisi dewasa. Otonomi jugalah yang berperan menyeimbangkan pengembangan sumber daya internal dan kemampuan dalam membangun keintiman dalam diri maupun hubungan dengan orang lain.
Kematangan dewasa pada dasarnya membutuhkan ”perundingan yang sulit” untuk membangun diri yang terpisah, tetapi tetap terhubung. Persoalannya, proses tersebut kini berlangsung dalam lingkungan komunikasi yang sama sekali berbeda.
Remaja tidak hanya tumbuh di tengah keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan sosialnya. Di era ketika semua hal terhubung dalam sosial media, remaja tumbuh di dalam platformed society. Kondisi ketika aktivitas sosial masyarakat kini makin dimediasi oleh platform digital.
Kumpul-kumpul dan percakapan yang tampak tak bersalah tertanam dalam proyek rekayasa perilaku berskala planet yang ambisius, yang diinstitusionalisasikan dalam arsitektur big other yang mencakup pemantauan, analisis, dan kontrol yang merata. Harmoni kepentingan perusahaan platform dicapai dengan mengorbankan integritas psikologis remaja.
Di sinilah datafikasi bekerja.
Apa yang disukai, akun siapa yang diikuti, berapa lama waktu yang dihabiskan untuk menonton sebuah video, kapan guliran di layar dihentikan, apa yang dicari, apa yang dikomentari, bahkan apa yang diabaikan, semuanya meninggalkan jejak digital. Jejak-jejak tersebut masuk ke sistem big data dan kemudian diproses melalui algoritma untuk menghasilkan personalisasi konten.
Kita merasa sedang memilih apa yang ingin kita lihat. Padahal, pada saat yang sama, kita juga sedang dipilihkan oleh sistem korporasi raksasa yang segala tindakannya diperhitungkan secara khusus untuk memutar roda yang memberi keuntungan pada pundi-pundi kantong kapitalis.
Saya berpikir, saya merasa, saya percaya. Suara pertama atau tindakan batin kita, oleh kapitalisme digital, telah diubah menjadi data. Saya yang berpikir, saya yang merasa, saya yang percaya, perlahan kehilangan kendali untuk belajar merasakan kepemilikan dan tanggung jawab atas pengalaman sendiri.
Bukan karena isi kepala kita dibungkam oleh sistem, melainkan karena lingkungan komunikasi digital makin mampu melakukan algorithmic mediation terhadap apa yang kita lihat, pikirkan, konsumsi, dan respons.
Media sosial menjadi semacam ruang kurasi yang tidak pernah selesai. Padahal, kedewasaan justru lahir dari pengalaman yang tidak selalu terpersonalisasi.
Konflik, disonansi, kesendirian, kegagalan, penolakan, kebosanan, dan perjumpaan dengan sesuatu yang tidak disukai adalah pengalaman-pengalaman yang memaksa manusia melakukan refleksi. Dari sana, identitas dibangun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: