Media Sosial, Hidup, dan Proses Kedewasaan
ILUSTRASI Media Sosial, Hidup, dan Proses Kedewasaan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Lantas, apa problem jika proses kedewasaan terganggu?
Kita berisiko kehilangan kemampuan untuk mencapai keseimbangan antara aspek internal dan eksternal. Studi klinis mengidentifikasi pola seperti ketidakmampuan menoleransi kesendirian, rasa diri yang tidak stabil, hingga kebutuhan berlebihan untuk mengendalikan orang lain sebagai cara untuk menjaga ”cermin” agar tetap dekat.
Di dalam ekosistem medisa sosial, ”cermin” itu hadir dalam bentuk yang sangat konkret: like, comment, view, dan follow.
Kehilangan cermin dapat terasa seperti kepunahan.
Maka, persoalan media sosial bukan semata-mata persoalan durasi screen time. Media sosial adalah persoalan relasi antarmanusia, teknologi, dan proses bagaimana pembentukan subjek.
Ketika perhatian manusia menjadi komoditas, ketika pengalaman manusia menjadi data, dan ketika perilaku manusia makin dimediasi oleh algoritma, kita perlu bertanya kembali. Apakah kita masih memiliki cukup ruang untuk menjadi penulis di kehidupan kita sendiri?
Sebab, manusia tidak hanya membutuhkan informasi untuk tetap hidup. Manusia membutuhkan pengalaman orisinal untuk bertumbuh.
Dan, mungkin, sesekali, kita perlu berhenti scrolling. Diam. Bengong. Sendirian. Bukan karena kita sedang tidak melakukan apa-apa. Sebab, mungkin justru pada saat itulah kita sedang belajar mendewasa dan menjadi diri sendiri. (*)
*) Delmarrich adalah dosen ilmu komunikasi, Universitas Bhayangkara, Surabaya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: