Hari Kesehatan Mental Sedunia (1): Bingung, Stres, dan AI pun Jadi Teman Curhat

Hari Kesehatan Mental Sedunia (1): Bingung, Stres, dan AI pun Jadi Teman Curhat

Layanan curhat gratis dan nyaman pilihan anak-anak muda. Mereka kerap memanfaatkan platform AI di gawai sebagai teman curhat.-Boy Slamet-Harian Disway -

Beban hidup berlapis. Mulai dari himpitan ekonomi, masa depan karier, hingga rumitnya relasi sosial. Hal-hal itu membuat ruang konseling psikologis diserbu generasi muda. Mereka butuh telinga yang mau mendengarkan. Bila psikolog tak lagi cukup menampung beban, platform akal imitasi/artificial intelligence (AI) pun beralih jadi teman curhat paling setia.

—

Layar laptop K menyala terang sejak pagi. Pesan-pesan WhatsApp yang masuk seolah berderit tiada henti. Terasa begitu bising di telinganya. Tahun ini, usianya menapaki babak akhir bangku kuliah. Di saat yang sama, teror pertanyaan klasik dari teman maupun keluarga terus menghantam: kapan lulus?

Ya, belakangan, mahasiswi 21 tahun itu merasa benar-benar kewalahan (overwhelmed) dengan dunianya. "Rasanya semua tugas menumpuk, tak ada waktu untuk beristirahat atau menikmati hidup sejenak.

Apalagi, melihat teman kita yang keren sekali tapi energi kita tidak cukup buat bisa seaktif dia," keluhnya kepada Harian Disway, Rabu siang, 7 Oktober 2026.

Sebagai anak rantau, beban hidupnya berlipat ganda. Tinggal jauh dari pelukan orang tua memaksanya memutar otak mengelola keuangan secara mandiri. Dilema harian itu makin terasa menjadi-jadi. Seperti meradang.

Di satu sisi harus berhemat setengah mati, di sisi lain ada keinginan manusiawi untuk menikmati sedikit kesenangan hidup dengan membelanjakan uang di dompetnya.

Belum selesai urusan perut dan dompet, ada lagi ujian mental bernama stres pertemanan. Tidak semua orang punya frekuensi yang sama. Ada tipe teman yang gemar melibas tugas sendirian tanpa mau berembuk.

Sehingga membuat K merasa tersingkir secara perlahan. "Efeknya, aku jadi merasa tidak berguna dan bingung mau bantu apa, soalnya tugas bagianku tiba-tiba sudah diselesaikan sama dia," ungkap K dengan nada getir.

Rasa kewalahan dan stres dengan masalah hidup itu tak cuma dialami oleh K. C, lelaki pekerja swasta, 24 tahun juga merasa cemas dengan masalah perekonomian. “Ada kesenjangan antara sektor pendapatan upah rill anak muda dan upah minimumnya,” ucapnya.

Bagi C, anak muda sekarang harus mendobrak stigma lama. Seperti nikah dan mapan di usia muda, membeli rumah, hingga menggelar pesta pernikahan yang istimewa.

C juga merasa tidak heran jika pemikiran stoikisme, aliran filsafat yang mengajarkan cara mengontrol dan menerima diri yang belakangan populer di kalangan anak-anak muda. 

“Soalnya anak muda juga dapat tekanan dari orang tua dan keluarga,” tambahnya. Tekanan orang di sekitar membuat tuntutan ekonomi terasa sulit, seperti terjebak dalam jurang besar.

Tak jarang masalah tersebut juga membuat overthinking. Selain itu, masalah lain baginya adalah urusan percintaan yang tak bisa diprediksi dan di luar ekspektasi.

Kebanyakan masalah anak muda tak jauh dari karier, pendidikan, sampai percintaan. R, seorang lelaki 23 tahun kini sedang stres mencari pekerjaan. Baginya, kasus negara juga membuatnya bertambah pusing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: