Hari Kesehatan Mental Sedunia (1): Bingung, Stres, dan AI pun Jadi Teman Curhat

Hari Kesehatan Mental Sedunia (1): Bingung, Stres, dan AI pun Jadi Teman Curhat

Layanan curhat gratis dan nyaman pilihan anak-anak muda. Mereka kerap memanfaatkan platform AI di gawai sebagai teman curhat.-Boy Slamet-Harian Disway -

“Banyak berita negatif yang non-bencana seakan akan bikin kita parno kayak ‘What's the next plot twist?’ begitu. Ditambah lagi posisi pencari kerja ini terasa belum pasti, jadi sepertinya semakin memperkuat rasa stres saat ini,” jelasnya. 

Tak jarang, mereka mulai mencari cara untuk memulihkan kesehatan mental. Ada yang curhat dengan psikolog, teman dekat, hingga AI. Mahasiswi berinisial K tadi lebih rajin ke psikolog dan curhat dengan teman.

“Aku dan temanku biasanya sharing layanan psikolog yang buka praktik pribadi atau klinik psikolog swasta lainnya. Kalau curhat biasanya dengan teman dekat. Tapi memang ada hal yang tidak bisa diungkap ke teman, jadi butuh ke psikolog kalau butuh pertolongan,” papar K.

Sebelumnya, K pernah menahan diri untuk mengalihkan pikiran sejenak dengan melakukan aktivitas lain yang menyenangkan tetapi masih belum membaik. Bahkan mengganggu keseharian sehingga peran psikolog sangat penting baginya.

Meski demikian, akhirnya bercerita dengan psikolog akan membuatnya merasa didengar dan lega. Apalagi, dengan psikolog kampus, K mendapat banyak pembelajaran dan edukasi. Setidaknya, pencerahan itu membuat dia berpikir jernih dan lebih mudah menyelesaikan masalah. 

Meski demikian, ada juga yang nyaman curhat dengan AI. Misalnya, perempuan berinisial N, mahasiswa semester akhir yang juga mengeluarkan keluh kesahnya di Meta AI. Menurutnya, curhat ke Meta AI bisa membuatnya bercerita dengan lebih leluasa dan privasinya terjaga.

“Pokoknya tergantung kebutuhan, terkadang juga bertanya dengan AI. Lalu, juga mengungkap cerita-cerita lucu. Kita tidak akan dihakimi dan dibilang lebay. Kalau bisa diatasi sendiri kenapa tidak,” ujarnya, lantas tertawa.

Respons AI sangat melegakan, tidak marah-marah, dan tidak akan jadi bahan gosip. Cukup didengar saja, sudah membuat lega.

Terkadang, dirinya juga rajin mengakses konten psikologi di media sosial sebagai pembelajaran. Dari semua anak muda tadi, semuanya pun tahu soal cara mengakses layanan psikologi. 

Hanya saja cara mereka merespons masalah berbeda-beda. Lelaki seperti R dan C, mereka lebih suka menyelesaikan sendiri masalahnya. Berbeda dengan K atau N yang meluapkan masalahnya dengan mengobrol.

“Kalau ada masalah, sepertinya sekarang lebih ke simpan sendiri, sih. Karena everyone has their on struggle jadi merasa sungkan untuk bercerita,” ujar R. Adapun C lebih suka menulis di buku diary. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: