Menjelajah Lautan Teduh (22): Tumor Jinak Pun Terangkat
SUASANA OPERASI pengangkatan tumor jinak (lipoma) di KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991, Sabtu, 3 Oktober 2026.-SATGAS TERPADU PORT VISIT 2026-
Kapal tersebut dilengkapi berbagai poliklinik rawat jalan, misalnya untuk mata, gigi, atau klinik spesialis lainnya. Kapal yang dibuat oleh PT PAL tersebut juga dilengkapi UGD dan lima ruang bedah. Dalam kondisi tertentu, ia bisa dipakai untuk rawat inap lebih dari 130 pasien. Penunjang medisnya juga mumpuni. Mulai unit radiologi hingga laboratorium.
Jika diperlukan untuk evakuasi, KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991 juta dilengkapi dengan ambulans laut dan speedboat. Ambulans laut tersebut diletakkan di lambung kanan-kiri kapal. Tepatnya di dek 3, satu lantai dengan UGD.

ALIRAN WARGA Port Vila, Vanuatu, ketika menaiki tangga KRI dr Wahidin Sudirohusodo-991 untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis.-SATGAS TERPADU PORT VISIT 2026-
Anda sudah tahu, selama di Vanuatu, satgas tersebut melayani 656 pasien dan berhasil melakukan 14 operasi besar dan kecil. Artinya, KRI dr Wahidin Sudirohusodo pun melayani pasien yang menginap setelah mereka menjalani operasi. ’’Sebab, pelayanan kesehatannya kan dua hari. Jadi, masih bisa dipakai menginap untuk pemulihan,’’ kata dr Chairil.
Siang itu, sejumlah pasien menunggu operasi bersiap di sebelah ruang bedah. Mereka sudah memakai baju hijau. Siap merebahkan diri di meja operasi.
Memang, di meja operasi, diplomasi mewujud melalui pidato, perundingan, atau jabat tangan antar pejabat negara. Di Vanuatu, ia hadir melalui tangan-tangan tenaga medis yang bekerja menyelamatkan pasien, tanpa meminta bayaran. Bagi mereka yang menjalani operasi, Indonesia bukan semata-mata nama sebuah negara yang jauh di Asia Tenggara. Indonesia hadir sebagai orang-orang yang datang untuk membantu.
Dalam The International Politics of Communication: Representing Community in a Globalizing World (2025), akademisi Alan Chong menguraikan bagaimana komunikasi lintas batas ikut membentuk opini dan hubungan politik internasional. Diplomasi, dengan demikian, tidak hanya berlangsung di ruang perundingan. Interaksi antarmanusia juga dapat menjadi saluran bagi sebuah negara untuk membangun hubungan dengan masyarakat negara lain.
Gagasan itu menemukan bentuk konkretnya dalam misi Satgas Terpadu Port Visit 2026 di Vanuatu. Operasi dan pelayanan kesehatan gratis bukan sekadar bantuan medis, melainkan juga perjumpaan yang memungkinkan warga setempat mengenal Indonesia melalui pengalaman langsung.
Dalam Barefoot Global Health Diplomacy (2020), Sebastian Kevany membahas diplomasi kesehatan sebagai ruang pertemuan antara kesehatan masyarakat, hubungan internasional, dan keamanan. Perspektif ini mengingatkan bahwa pelayanan kesehatan lintas negara memiliki dimensi yang lebih luas daripada tindakan medis itu sendiri.
Namun, bantuan kemanusiaan tidak serta-merta menghasilkan dukungan politik. Kepercayaan harus tumbuh dari pengalaman yang baik, penghormatan terhadap masyarakat setempat, dan konsistensi hubungan. Di kawasan Pasifik Selatan, tempat kepentingan geopolitik berbagai negara saling beririsan, hal itu menjadi semakin penting. (*)
Apresiasi Ketua Parlemen, baca besok… (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: