Workshop Transformasi Digital Pendidikan: Remaja di Surabaya Habiskan 9 Jam Per Hari Untuk AI

Workshop Transformasi Digital Pendidikan: Remaja di Surabaya Habiskan 9 Jam Per Hari Untuk AI

Suhadi sebagai perwakilan Kemendiksasmen memaparkan hasil minat baca anak Indonesia tahun 2025 yang masih rendah dalam forum workshop, pada Selasa, 13 Oktober 2026-Rossa Handini-Harian Disway

SURABAYA,  HARIAN DISWAY -  Direktorat Sekolah Dasar, Direktorat jendral Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, bersama komisi X DPR-RI Puti Guntur Soekarno melaksanakan Kegiatan Workshop Pendidikan Program Prioritas dengan tema "Transformasi Digital Pendidikan di Era AI: Membangun Pembelajaran Cerdas, Kreatif dan Adaptif”, pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Dalam kegiatan tersebut mengundang para guru yang ada di Surabaya untuk urun rembuk terkait permasalahan Pendidikan dan digitalisasi. Utamanya kecerdasan artifisial (AI).  

Sejumlah guru mengeluhkan penggunaan AI yang mempengaruhi minat baca dan etika para siswa. Masalahnya mereka telah bergantung pada penggunaan AI.

Ketua Tim Kerja Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Surabaya Atiqo menekankan pentingnya adaptasi dunia pendidikan terhadap perkembangan teknologi digital dan AI. 

BACA JUGA:Menata Kampus PTKI di Era Kecerdasan Buatan

BACA JUGA:Ketika Kecerdasan Buatan Mulai Punya Tubuh: Menuju Jadi Kawan Manusia


Pemaparan Atiqo, Ketua Tim Kerja Kurikulum Sekolah Dasar-Rossa Handini-Harian Disway

Ia menjelaskan bahwa AI dapat membantu guru dalam menyiapkan variasi bahan ajar, menyusun asesmen, serta merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing murid. 

Namun kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi AI, rentan menggantikan peran pendidik. Oleh karena itu, Atiqo menekankan bahwa terdapapat prinsip penting yang harus dipegang teguh oleh para pendidik. 

"AI boleh membantu guru mengajar, tetapi tidak boleh menggantikan peran guru dalam mendidik, membimbing, dan membentuk karakter murid," tegasnya. 

Perbedaan mendasar ini terletak pada aspek kemanusiaan. Teknologi memang memiliki kecerdasan tinggi dalam mengolah informasi, namun guru memiliki keteladanan, empati, dan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak akan pernah dimiliki oleh mesin.

BACA JUGA:Kecerdasan Buatan Dituding Bikin Manusia Makin Tidak Cerdas: Pekerjaan Kian Ringan, Otak Ikut Kosong

BACA JUGA:Ketika Kecerdasan Buatan Mulai Mengisi Ruang Sepi Manusia: Indonesia Lebih Terbuka Pada ’’Pacar AI’’


Pemaparan penelitian Bambang Sigit Widodo terhadap kecenderungan mahasiswa dalam menggunakan AI-Rossa Handini-Harian Disway

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: