Tantangan Prodi Sejarah di Era Kecerdasan Buatan
ILUSTRASI Tantangan Prodi Sejarah di Era Kecerdasan Buatan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
SELASA, 6 Oktober 2026, saya menghadiri rapat bulanan Program Studi (Prodi) Sejarah Universitas Airlangga. Tidak ada pembahasan istimewa dalam rapat itu karena merupakan rapat rutin bulanan. Beberapa program kerja yang telah berjalan dievaluasi. Beberapa yang akan dikerjakan pada bulan mendatang disiapkan dengan baik.
Rapat berubah menjadi diskusi serius ketika saya melontarkan sebuah pertanyaan, apakah kita sudah menyiapkan diri dengan sungguh-sungguh menghadapi maraknya penggunaan kecerdasan buatan dalam bidang sejarah?
Saat ini semua orang bisa membuat karya apa saja yang berbasis tulisan, visual, serta audiovisual dengan bantuan kecerdasan buatan. Kehadiran kecerdasan buatan bisa menjadi ”ancaman” bagi ilmu sejarah jika tidak disikapi dengan baik.
Kurikulum sejarah secara tradisional dibangun di atas tiga fondasi utama. Pertama, pengajaran memahami sejarah, baik sejarah nasional, regional, maupun global.
BACA JUGA:Menyambut Buku Sejarah Baru dengan Wacana Kritis
BACA JUGA:Menyambut Terbitnya Buku 'Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global'
Kedua, membekali kemampuan mahasiswa dalam hal riset sejarah. Inti dari riset sejarah adalah menelusuri sumber sejarah, mengolah data yang berasal dari sumber sejarah, menguji fakta, dan merangkai temuan tersebut menjadi sebuah narasi rekonstruktif yang runtut.
Selama bertahun-tahun mahasiswa sejarah diajari bagaimana caranya menelusuri sumber-sumber sejarah di kantor-kantor arsip, perpustakaan, dan tempat-tempat lain tempat sumber sejarah tersimpan.
Era digitalisasi arsip telah menyederhanakan langkah-langkah penelitian sejarah. Sebab, sebagian besar sumber bisa ditelusuri secara daring melalui perangkat internet.
Ketiga, mengajari kemampuan menulis sejarah atau sering disebut historiografi bagi mahasiswa.
BACA JUGA:Media Sosial sebagai Arsip Sejarah Personal: Dari Tumbuh Kembang ke Pekarangan Wong Cilik
BACA JUGA:Amnesia Sejarah di Balik Pemangkasan Anggaran Perpusnas RI
Kehadiran teknologi generatif dalam bentuk kecerdasan buatan membawa serangkaian keunggulan yang tidak dapat dimungkiri bagi pengembangan ilmu sejarah. Dari sudut pandang efisiensi kerja ilmiah, kecerdasan buatan menawarkan percepatan yang luar biasa pada tahap pengumpulan sumber.
Peneliti sejarah konvensional harus menghabiskan waktu berbulan-bulan di lembaga arsip hanya untuk membaca, mengatalogkan, dan memilah ribuan dokumen sumber sejarah. Tidak jarang para sejarawan harus melintasi negara hanya untuk mengejar beberapa lembar arsip penting.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: