Menyambut Buku Sejarah Baru dengan Wacana Kritis
ILUSTRASI Menyambut Buku Sejarah Baru dengan Wacana Kritis.-Gemini-
PELUNCURAN lima jilid pertama buku sejarah nasional Indonesia pada 31 Agustus oleh Kemenkebud patut disambut segenap pemerhati sejarah. Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global akan menjadi buku babon baru dalam penulisan Sejarah Indonesia sejak pembaruan dua dekade silam.
Buku setebal hampir 5.700 halaman dan digarap 123 pakar dari 34 kampus dan 11 lembaga itu merupakan langkah positif pemerintah dalam memajukan literasi di Indonesia. Sebab, buku tersebut bisa diakses secara digital dan gratis melalui laman pustakabudaya.id. Hal itu merupakan pijakan memperluas literatur untuk memudahkan akses masyarakat terhadap sejarah.
Menyambut penulisan sejarah baru tidak berarti sebatas membaca apa yang ada di dalam isi buku. Artinya, menyambut tidak berarti berhenti bertanya atau mempersoalkan narasi yang dihadirkan negara atas klaim terhadap ”sejarah resmi” yang baru saja diluncurkan. Melainkan juga jembatan untuk melahirkan berbagai wacana kritis untuk memperkaya khazanah intelektual bangsa Indonesia.
Teori Kebenaran Sejarah
Sikap kritis terhadap kehadiran buku sejarah yang baru saja diterbitkan perlu berangkat dari pemahaman yang lebih fundamental. Tentang bagaimana kebenaran sejarah bisa didapat dan dibentuk.
BACA JUGA:Menyambut Terbitnya Buku 'Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global'
BACA JUGA:Media Sosial sebagai Arsip Sejarah Personal: Dari Tumbuh Kembang ke Pekarangan Wong Cilik
Dalam penulisan sejarah, kebenaran bukanlah suatu hal yang selalu mutlak dan final. Sebab, proses menulis sejarah sejatinya menyusun kepingan puzzle yang hilang melalui banyak sumber sezaman yang tersisa dan dapat ditelusuri.
Oleh karena itu, yang dikejar para sejarawan bukanlah kebenaran absolut, melainkan kebenaran kredibel yang mampu memberikan penjelasan terbaik, berdasarkan sumber-sumber mutakhir yang ditemukan.
Menurut Behan McCullagh, kredibilitas sejarah itu bisa didapatkan melalui rangkaian bukti sezaman. Lalu, diskusi dari berbagai sumber dan tafsir serta diuji kembali dengan temuan bukti atau perspektif terbaru.
Dalam kerangka tersebut, buku sejarah nasional yang baru saja diterbitkan Kemenkebud patut ditempatkan menjadi salah satu sumber sumber yang valid dalam memahami sejarah Indonesia. Selian itu, tidak semestinya diperlakukan sebagai satu-satunya sumber yang sah dalam memahami dinamika perjalanan bangsa.
BACA JUGA:Amnesia Sejarah di Balik Pemangkasan Anggaran Perpusnas RI
BACA JUGA:Membaca Muhammadiyah dari Sejarah Ruang Kota
Di sinilah pentingnya sikap kritis untuk membaca, menguji, dan membandingkan narasi yang dihadirkan dalam buku sejarah terbaru tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: