Menyambut Buku Sejarah Baru dengan Wacana Kritis
ILUSTRASI Menyambut Buku Sejarah Baru dengan Wacana Kritis.-Gemini-
Melawan Ancaman Disintegrasi dengan Keberagaman Sejarah
Pada titik itulah buku sejarah nasional terbaru berusaha menyajikan semangat kohesivitas dan membatasi paparan kebebasan dunia digital. Seperti yang diucapkan guru besar Undip Singgih Tri Sulistyo selaku editor utama dikutip dari CNBC Indonesia:
”Nanti harapannya narasi sejarah yang dihasilkan akan mendukung semangat kohesivitas sebagai sebuah bangsa yang kita tahu bagaimana Indonesia sekarang ini dengan beragam kebebasan dunia digital efek negatifnya adalah ada kekuatan tertentu yang mungkin menyebabkan gejala disintegrasi”.
Kutipan tersebut menunjukkan kekhawatiran bahwa keberagaman di ruang digital dapat memicu disintegrasi. Padahal, jika sejarah berperan penting dalam membentuk identitas kebangsaan, keberagaman semestinya menjadi bagian dari cara kita memahaminya.
BACA JUGA:Sejarah Publik dan Ujian Kesadaran Sejarah Kita
BACA JUGA:Menghidupkan Sejarah di Tengah Banjir Konten
Apabila keberagaman tafsir merupakan upaya untuk mencapai kebenaran kredibel dalam sejarah, mengapa beragam kebebasan di dunia digital justru dianggap berpotensi menjadi ancaman disintegrasi seperti yang disebutkan pada kutipan di atas.
Di sinilah pemerhati sejarah maupun masyarakat umum perlu memastikan bahwa semangat persatuan tidak berubah menjadi dorongan untuk menyeragamkan ingatan sejarah. Sebab, membatasi perbedaan tafsir justru dapat menjadi bumerang dan menimbulkan kesan bahwa sejarah hanya sah dibaca melalui satu narasi resmi.
Memperluas Narasi Sejarah melalui Digitalisasi
Terlepas benar tidaknya maksud dari ucapan Singgih Tri Sulistyo terkait pembatasan ruang digital, buku itu tetap layak untuk mendapatkan apresiasi. Terlebih, aksesnya yang digratiskan untuk dibaca oleh segenap lapisan masyarakat hanya berbekal gawai maupun komputer.
Maka, alangkah baiknya lagi jika digitalisasi dan semangat keterbukaan tersebut tidak berhenti pada buku sejarah yang diterbitkan pemerintah. Apabila digitalisasi buku dimaksudkan untuk mendorong masyarakat supaya lebih kritis, seyogianya negara juga mengambil langkah dengan mendigitalisasi buku-buku karangan sejarawan dan berbagai penelitian akademis lainnya yang tidak kalah kualitasnya.
Sikap kritis di masyarakat tidak akan bisa sepenuhnya tercapai jika hanya diberikan akses terhadap suatu narasi. Sikap kritis itu justru timbul ketika seseorang memiliki kesempatan untuk membaca berbagai sumber, membandingkan narasi hingga menguji argumen lalu membentuk kesimpulannya sendiri.
Digitalisasi sumber sejarah tidak seharusnya sekadar menjadi sarana menyebarluaskan satu versi sejarah. Namun, membangun suatu ekosistem pengetahuan yang memungkinkan kehadiran bahan bacaan yang beragam juga perlu diperhatikan. Hal itu guna memperkuat kohesivitas bangsa seperti yang dicita-citakan dalam penulisan buku sejarah terbaru ini.
Menyambut dengan Mata Terbuka
Pada akhirnya, peluncuran buku sejarah Nasional terbaru tetap saja patut untuk kita sambut dan apresiasi kehadirannya di tengah-tengah dinamika bangsa yang kian kompleks. Sebab itu, sikap kritis perlu dijadikan prinsip dalam membaca dan memahami dinamika masa lalu untuk terus melangkah di masa kini dan menatap masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: