Menghidupkan Sejarah di Tengah Banjir Konten
ILUSTRASI Menghidupkan Sejarah di Tengah Banjir Konten.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway -
SEJAK Januari hingga Juni 2026, penulis menyempatkan diri mengunjungi beberapa situs cagar budaya di Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Lamongan. Di Lumajang, kunjungan dilakukan ke Situs Biting di Kecamatan Sukodono, Candi Agung di Kecamatan Randuagung, dan Candi Gedong Putri di Kecamatan Senduro.
Sementara itu, di Lamongan, penulis berkesempatan mengunjungi Candi Pata’an di Kecamatan Sambeng, yang konon dikenal sebagai salah satu peninggalan penting dari masa Raja Airlangga.
Kunjungan tersebut bukan bagian dari penelitian formal, melainkan aktivitas sederhana untuk menikmati ruang-ruang sejarah yang masih bertahan di tengah perubahan zaman.
Dari kunjungan tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar: mengapa banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang masih belum mengenal situs-situs bersejarah yang sesungguhnya berada tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal mereka?
BACA JUGA:Gandrung Sewu: Dari Sejarah yang Alamiah Menjadi Sejarah yang Manusiawi
BACA JUGA:Sejarah Indonesia di Era Scroll dan Swipe
Padahal, di era media sosial saat ini, informasi dapat menjangkau publik dalam hitungan detik. Ironisnya, berbagai tren hiburan global lebih mudah dikenal jika dibandingkan dengan sejarah lokal yang menjadi bagian dari identitas daerah itu sendiri.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama pelestarian cagar budaya saat ini bukan hanya soal menjaga bangunan fisik agar tidak rusak, melainkan juga bagaimana memastikan nilai sejarah yang terkandung di dalamnya tetap hidup di tengah masyarakat.
Pemerintah daerah perlu tampil sebagai leading sector yang mengoordinasikan berbagai pihak untuk membangun ekosistem pelestarian dan promosi cagar budaya yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi komunikasi.
Pemerintah daerah, misalnya, melalui dinas kebudayaan, dinas pariwisata, dinas komunikasi dan informatika, maupun bagian kehumasan, perlu membangun strategi komunikasi digital yang terintegrasi. Instagram dan TikTok dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan cagar budaya kepada publik yang lebih luas.
BACA JUGA:Ujian Idealisme di Persimpangan Sejarah
BACA JUGA:Museum Megalitikum Bondowoso: Magnet Sejarah Internasional
Konten singkat mengenai sejarah situs, cerita tokoh lokal, fakta unik peninggalan masa lampau, hingga dokumentasi visual yang menarik dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal warisan budaya daerahnya.
Potensi itu makin besar karena media sosial kini tidak hanya digunakan generasi muda. Kelompok usia yang lebih tua juga makin akrab dengan berbagai konten audio-visual yang beredar melalui telepon pintar mereka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: