Sejarah Indonesia di Era Scroll dan Swipe

Sejarah Indonesia di Era Scroll dan Swipe

ILUSTRASI Sejarah Indonesia di Era Scroll dan Swipe-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BELAKANGAN INI, konten sejarah Indonesia ramai bermunculan di TikTok. Mulai kisah kerajaan Nusantara, tokoh pergerakan nasional, hingga peristiwa kelam seperti 1965. 

Semuanya dikemas dalam video berdurasi satu hingga tiga menit. Dengan musik latar dramatis dan narasi cepat, sejarah tampil ringkas, visual, dan mudah dicerna.

Fenomena itu menandai perubahan penting. Sejarah Indonesia tidak lagi hanya dipelajari lewat buku pelajaran atau ruang kelas, tetapi juga lewat layar ponsel. Media sosial, khususnya TikTok, telah menjadi ruang baru produksi dan distribusi ingatan kolektif.

BACA JUGA:Peluncuran Penulisan Ulang Sejarah Indonesia Diundur, Fadli Zon Pastikan Tetap Rilis Tahun Ini

BACA JUGA:Prabowo Perintahkan Tulis Ulang Sejarah Indonesia: History atau His Story?

DARI NARASI NEGARA KE NARASI WARGANET

Sosiolog Maurice Halbwachs pernah mengingatkan bahwa ingatan bukan sekadar urusan individu. Apa yang kita ingat tentang masa lalu dibentuk oleh lingkungan sosial. Dalam konteks Indonesia, selama puluhan tahun, negara memegang peran dominan dalam membingkai ingatan kolektif.

Narasi sejarah resmi disebarkan lewat buku pelajaran, kurikulum, film, hingga upacara kenegaraan. Versi tertentu dianggap sahih, sedangkan versi lain diredam atau bahkan dihapus. Generasi demi generasi tumbuh dengan pemahaman sejarah yang relatif seragam.

Media sosial mengubah situasi itu. Ingatan kolektif tak lagi sepenuhnya berada di tangan negara atau institusi formal. Warganet ikut memproduksi dan menyebarkan narasi sejarah. 

Kisah lokal, pengalaman korban, hingga sudut pandang yang dulu jarang dibicarakan kini menemukan ruangnya. Dengan kata lain, media sosial menciptakan kerangka sosial baru bagi ingatan sejarah –lebih terbuka, tetapi juga lebih gaduh.

Namun, keterbukaan itu bukan tanpa masalah. Michel Foucault mengingatkan bahwa pengetahuan selalu terkait dengan kuasa. Yang dianggap benar bukan semata karena faktanya, melainkan juga karena ada mekanisme sosial yang membuatnya dipercaya. Di media sosial, kuasa itu bekerja lewat algoritma dan popularitas. 

Konten sejarah yang sering muncul di lini masa tidak selalu yang paling akurat, tetapi yang paling menarik perhatian. Judul sensasional, narasi konflik, dan klaim berani lebih mudah viral jika dibandingkan dengan penjelasan yang penuh konteks.

Akibatnya, sejarah kerap disederhanakan. Peristiwa kompleks diperas menjadi cerita hitam-putih. Tokoh sejarah diangkat sebagai pahlawan tanpa cela, atau sebaliknya, dijatuhkan sebagai simbol kejahatan mutlak. Nuansa kerap kalah oleh kecepatan. Di titik itu, sejarah berisiko menjadi korban logika klik dan like.

Peter L. Berger dan Thomas Luckmann menyebut realitas sosial sebagai hasil konstruksi bersama. Apa yang dianggap ”kenyataan” dibangun melalui proses pengulangan dan pembiasaan. Hal itu juga berlaku pada sejarah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: