Sejarah Indonesia di Era Scroll dan Swipe
ILUSTRASI Sejarah Indonesia di Era Scroll dan Swipe-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Di media sosial, sebuah narasi sejarah bisa beredar luas dalam waktu singkat. Ia dibagikan, dikomentari, dan diulang berkali-kali. Lama-kelamaan, narasi itu tampak mapan, seolah-olah sudah final. Padahal, ia bisa saja lahir dari penafsiran sepihak atau data yang belum lengkap.
Media sosial mempercepat proses konstruksi tersebut. Sebuah narasi sejarah dapat dengan cepat diulang, dikomentari, dimodifikasi, lalu diterima sebagai ”pengetahuan umum”.
Ketika suatu versi sejarah dibagikan ribuan kali, ia mengalami objektivasi –tampak seolah-olah sebagai fakta yang mapan. Pengguna lain kemudian menginternalisasinya tanpa selalu menyadari proses sosial di baliknya.
Itulah sebabnya mengapa perdebatan sejarah di media sosial sering kali bersifat emosional. Yang dipertaruhkan bukan hanya kebenaran akademik, melainkan juga identitas, nilai, dan rasa memiliki. Sejarah menjadi cermin untuk memahami siapa ”kita” hari ini.
ANTARA EDUKASI DAN SENSASI
Tak bisa dimungkiri, konten sejarah yang viral hampir selalu memancing emosi. Ada rasa marah, bangga, tersinggung, atau nostalgia. Media sosial memang bekerja dengan logika emosi. Makin kuat perasaan yang ditimbulkan, makin besar peluang sebuah konten menyebar.
Secara sosiologis, itu menunjukkan bahwa sejarah berfungsi sebagai sumber identitas kolektif. Ketika suatu narasi sejarah dibela mati-matian, sering kali yang dipertahankan bukan hanya fakta, melainkan juga nilai dan keyakinan hari ini.
Perdebatan soal peristiwa 1965, kolonialisme, atau tokoh nasional di media sosial sejatinya adalah cermin persoalan kontemporer: keadilan, kekuasaan, nasionalisme, dan kemanusiaan.
Perlu dicatat, tidak semua konten sejarah di media sosial bermasalah. Banyak kreator yang bekerja serius. Mereka membaca arsip, mengutip buku, dan berusaha menjelaskan sejarah dengan bahasa yang mudah dipahami. Di tengah rendahnya minat baca buku sejarah, kehadiran mereka justru menjadi jembatan penting bagi generasi muda.
Namun, ada pula yang tergoda sensasi. Klaim bombastis tanpa sumber, penafsiran serampangan, hingga teori konspirasi mudah beredar. Ketika sejarah dijadikan komoditas perhatian, kebenaran sering kali berada di posisi kedua.
Di sinilah peran publik diuji. Literasi media dan literasi sejarah menjadi kebutuhan mendesak. Masyarakat perlu dibiasakan untuk tidak langsung percaya pada konten yang viral. Pertanyaan sederhana seperti ”sumbernya dari mana?” atau ”apa konteksnya?” seharusnya menjadi refleksi.
TANTANGAN KE DEPAN
Mengemas sejarah Indonesia di media sosial adalah keniscayaan. Ia membawa peluang sekaligus risiko. Di satu sisi, sejarah menjadi lebih dekat, lebih hidup, dan tidak lagi elitis. Di sisi lain, ia rawan direduksi dan disalahpahami.
Tantangannya bukan menolak media sosial, melainkan mengisinya dengan percakapan yang sehat. Akademisi, guru, dan lembaga kebudayaan perlu hadir di ruang digital, tidak untuk menggurui, tetapi untuk memberikan konteks dan membuka dialog.
Sejarah tidak harus kaku, tetapi juga tidak boleh serampangan. Ia perlu disampaikan dengan tanggung jawab. Pada akhirnya, sejarah yang beredar di media sosial adalah cermin masyarakat kita hari ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: