Tantangan Prodi Sejarah di Era Kecerdasan Buatan
ILUSTRASI Tantangan Prodi Sejarah di Era Kecerdasan Buatan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Konsistensi logis hanya bisa diperoleh jika seorang sejarawan tidak hanya mengandalkan data, tetapi juga ada kesadaran terhadap peristiwa masa lampau, imajinasi, dan intuisi. Penelitian sejarah bukan semata-mata kerja teknis, melainkan kerja intelektual yang membutuhkan pemikiran kritis.
Mesin kecerdasan tidak bekerja atas dasar pemahaman, kesadaran, atau empati, melainkan murni berdasarkan perhitungan probabilitas statistik. Kecerdasan buatan merangkai kata demi kata berdasarkan kecenderungan kemunculan yang paling tinggi, bukan berdasarkan pemaknaan terhadap kebenaran historis.
Narasi yang mereka buat pun sangat bergantung pada ketersediaan data yang dimilikinya, yang mengacu kepada seberapa lengkap data yang pernah diunggah ke basis data secara online.
Karena mesin bekerja secara teknis, bukan tidak mungkin sebuah data sejarah untuk konteks daerah atau waktu tertentu akan digunakan untuk menarasikan daerah dan waktu yang lain.
Penggunaan data seperti itu tentu saja akan menciptakan anakronisme, yaitu penempatan fakta sejarah yang tidak sesuai dengan konteks. Hal tersebut tentu saja sangat berbahaya bagi historiografi karena bisa memunculkan pembohongan sejarah.
Kelemahan fatal itu melahirkan fenomena yang dikenal sebagai halusinasi data. Yakni, mesin menciptakan fakta palsu, memfabrikasi nama tokoh atau nama tempat, atau merekayasa peristiwa secara sangat meyakinkan.
Karena kecerdasan buatan dilatih menggunakan data yang tersimpan di internet, algoritma secara otomatis mereproduksi dan memperkuat bias penulisan sejarah yang sudah ada. Misalnya, narasi eurosentris, bias gender, atau dominasi perspektif sang pemenang.
Mesin juga sama sekali tidak memiliki kepekaan kontekstual dan empati sejarah. Sejarah bukan sekadar urutan kronologis mengenai apa yang pernah terjadi. Sejarah merupakan usaha mendalam untuk memahami mengapa manusia di masa lalu mengambil suatu keputusan dalam kondisi sosial, budaya, dan politik pada zamannya.
Kecerdasan buatan tidak dapat merasakan penderitaan korban perang atau kekerasan politik, tidak bisa memahami nuansa moral di balik keputusan politik yang kompleks, dan tidak mampu menangkap bahasa kiasan atau satire yang tersirat dalam dokumen sejarah.
Kuntowijoyo dalam bukunya, Pengantar Ilmu Sejarah, menyatakan bahwa sejarah itu merupakan ilmu sekaligus seni. Dengan demikian, narasi sejarah yang dihasilkan oleh sejarawan selain menampilkan aspek ilmiah, juga dibumbui dengan hal-hal yang lebih manusiawi.
Hal itu tidak bisa dilakukan oleh mesin yang cenderung mekanis dan kehilangan ruh kemanusiaannya.
Perlunya Reorientasi Program Studi Sejarah
Menghadapi kenyataan tersebut, program studi sejarah tidak boleh mengambil sikap penolakan yang reaktif maupun sikap menyerah yang pasif. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan sejarah adalah melakukan dekonstruksi terhadap tujuan pembelajaran.
Jika selama ini lulusan sejarah dinilai dari kemampuannya merangkai kata dan mengingat data faktual, orientasi tersebut harus bergeser secara radikal. Menulis cerita berbasis data kini menjadi keterampilan tingkat bawah yang dapat diambil alih oleh mesin.
Program studi sejarah harus menegaskan kembali bahwa keunggulan sejati dari disiplin ilmu itu terletak pada ketajaman metodologi berpikir kritis. Mahasiswa sejarah harus dibekali kemampuan teknis untuk menguji otentisitas dan kredibilitas sumber –suatu proses yang dikenal sebagai kritik eksternal dan kritik internal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: