Tantangan Prodi Sejarah di Era Kecerdasan Buatan

Tantangan Prodi Sejarah di Era Kecerdasan Buatan

ILUSTRASI Tantangan Prodi Sejarah di Era Kecerdasan Buatan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Ketika narasi buatan mesin melimpah di ruang publik, peran sejarawan justru menjadi sangat krusial sebagai penguji kebenaran, pemeriksa bias, dan penjelas konteks etis.

Selanjutnya, kurikulum sejarah perlu mengintegrasikan pendekatan humaniora digital secara sistematis. Mahasiswa tidak hanya diajari cara memanfaatkan alat-alat kecerdasan buatan untuk mempercepat penelitian, tetapi juga diajari cara mengaudit algoritma tersebut. 

Mereka harus memahami bagaimana sebuah model bahasa bekerja, dari mana data latihnya berasal, dan di mana letak potensi biasnya. Sejarah harus mampu memosisikan kecerdasan buatan sebagai asisten metodologis, bukan sebagai pengganti nalar analitis. 

Pendekatan sejarah digital (digital history) telah dilakukan oleh banyak program studi sejarah di luar negeri dalam payung besar humaniora digital (digital humanities).

Transformasi itu juga menuntut penekanan pada aspek dekonstruksi narasi dan sejarah kritis. Mahasiswa sejarah perlu diajak untuk selalu mempertanyakan: siapa yang menulis narasi ini, kepentingan apa yang tersembunyi di baliknya, dan kelompok mana yang suara sejarahnya terbungkam. 

Pertanyaan-pertanyaan kritis semacam itu membutuhkan pertimbangan moral dan kesadaran politik yang tidak akan pernah dimiliki oleh baris-baris kode algoritma yang selama ini menjadi basis dari kecerdasan buatan. 

Kehadiran kecerdasan buatan pada akhirnya tidak harus diartikan sebagai lonceng kematian bagi program studi sejarah. 

Sebaliknya, fenomena itu menjadi momentum evaluasi dan perbaikan bagi disiplin ilmu sejarah dari praktik-praktik penulisan yang sekadar bersifat hafalan dan kompilasi data pasif. 

Ketika mesin mengambil alih tugas-tugas teknis mengolah informasi, manusia dipaksa untuk kembali pada hakikat terdalam dari ilmu sejarah: sebuah ikhtiar intelektual untuk merenungkan pengalaman hidup manusia, menegakkan keadilan naratif, dan memetik kearifan moral demi menuntun langkah di masa depan. (*)

*) Purnawan Basundoro adalah guru besar sejarah Universitas Airlangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: