Tantangan Prodi Sejarah di Era Kecerdasan Buatan
ILUSTRASI Tantangan Prodi Sejarah di Era Kecerdasan Buatan.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Saat ini, dengan bantuan teknologi pengenalan karakter optik berbasis kecerdasan buatan, ribuan dokumen arsip dapat dipindai, ditranskripsi, dan diringkas dalam waktu singkat. Dokumen yang telah dialihmediakan bisa diakses dari mana saja tanpa harus mendatangi lokasi keberadaan dokumen tersebut.
Keunggulan lain dari kecerdasan buatan adalah kemampuan lintas data yang melebihi kapasitas memori manusia. Mesin mampu mengidentifikasi pola interkoneksi antarperistiwa yang terpisah secara geografis dan temporal, yang mungkin terlewatkan oleh kacamata peneliti individu.
BACA JUGA:Membaca Muhammadiyah dari Sejarah Ruang Kota
BACA JUGA:Sejarah Publik dan Ujian Kesadaran Sejarah Kita
Dalam ranah sejarah publik, penggunaan generator visual dan audiovisual berbasis algoritma juga mempermudah proses rekonstruksi dokumen sejarah yang rusak, bangunan bersejarah yang telah hancur, atau reka ulang peristiwa masa lalu.
Hal itu menjadikan penyampaian pengetahuan sejarah kepada masyarakat luas menjadi jauh lebih interaktif, menarik, serta murah.
Basis arsip digital yang dibangun di berbagai negara juga memungkinkan percepatan kerja kecerdasan buatan untuk menyusun narasi sejarah.
Jika seluruh jenis tulisan lama yang beraneka ragam bentuk serta sumbernya telah bisa dideteksi oleh kecerdasan buatan secara langsung, apa pun jenis narasi sejarah yang diinginkan bisa didapat dengan sangat mudah.
BACA JUGA:Menghidupkan Sejarah di Tengah Banjir Konten
BACA JUGA:Sejarah Indonesia di Era Scroll dan Swipe
Jenis sejarah dimaksud, antara lain, yang berbentuk tulisan, visual, audiovisual, atau gabungan ketiganya. Nah, di sinilah para pemangku program studi sejarah dibuat gelisah.
Jika semua pekerjaan meneliti dan menulis sejarah telah direbut oleh mesin, rasa-rasanya pembelajaran di program studi sejarah menjadi sia-sia.
Beberapa Kelemahan
Kecerdasan buatan, walaupun memiliki banyak keunggulan, tetap saja punya kelemahan. Kecerdasan buatan adalah mesin, bekerja dengan logika mesin yang bersifat teknis. Mesin tidak pernah memiliki perasaan, tidak memiliki imajinasi untuk membedakan masa lalu dan masa kini.
Sisi kelemahan mesin itulah yang menjadikan pengajaran sejarah di perguruan tinggi tetap relevan. Kebenaran sejarah diukur dari kesesuaian antara narasi yang disusun dengan fakta empiris yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah serta konsistensi logis antarfakta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: