AI dan Kekuasaan Dunia
ILUSTRASI AI dan Kekuasaan Dunia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Pada Maret 2026, model teratas Amerika Serikat (AS) hanya unggul sekitar 2,7 persen dari model Tiongkok teratas dalam pengukuran tersebut. AS unggul dalam pengembangan model frontier, sedangkan Tiongkok kuat dalam publikasi, sitasi, paten, dan instalasi robot industri.
Dengan demikian, perlombaan AI bukan hanya perlombaan membuat algoritma terbaik. Ia adalah perlombaan membangun ekosistem yang memungkinkan algoritma tersebut bekerja.
Dalam perspektif realisme, teknologi merupakan bagian dari national capability. Negara dengan kemampuan teknologi lebih besar memiliki pilihan strategis lebih luas.
Jika pada abad ke-20 kekuatan militer, industri, dan energi menjadi fondasi kekuasaan negara, pada abad ke-21 kemampuan komputasi dan semikonduktor makin menjadi bagian dari kekuatan tersebut.
Namun, realisme saja tidak cukup. Ada kekuasaan yang lebih dalam: kemampuan menentukan struktur tempat aktor lain harus beroperasi.
Susan Strange menyebutnya structural power. Kekuasaan bukan hanya kemampuan membuat pihak lain melakukan sesuatu, melainkan juga kemampuan membentuk lingkungan tempat pilihan itu dibuat.
Dalam era AI, siapa yang menguasai cip, pusat data, cloud, platform, dan standar teknologi memiliki posisi untuk memengaruhi pilihan aktor lain.
Karena itu, semikonduktor bukan lagi sekadar komponen elektronik. Ia menjadi bagian dari geopolitik. Perkembangan TSMC dan ekspansinya ke AS menunjukkan bagaimana produksi cip makin terkait dengan keamanan dan diplomasi internasional.
Di sini perspektif filsafat teknologi menjadi relevan. Martin Heidegger mengingatkan bahwa teknologi bukan sekadar alat, teknologi juga membentuk cara manusia melihat dan mengorganisasi dunia. Dalam dunia AI, data menjadi sumber daya, energi menjadi input komputasi, mineral menjadi bahan strategis, cip menjadi infrastruktur, dan talenta menjadi modal.
Teknologi tidak berada di luar politik. Teknologi makin menjadi salah satu cara politik bekerja.
Persoalan itu penting bagi Indonesia. Pengembangan sovereign AI, talenta digital, infrastruktur komputasi, riset, dan kapasitas teknologi menunjukkan kebutuhan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai AI global.
Indonesia tidak cukup menjadi pasar AI. Indonesia perlu memiliki posisi strategis dalam ekosistem AI global.
Namun, memiliki sumber daya tidak otomatis berarti memiliki kekuasaan teknologi. Memiliki mineral tidak sama dengan menguasai semikonduktor. Memiliki pasar digital yang besar tidak sama dengan menentukan standar teknologi.
Yang menentukan adalah kemampuan mengubah sumber daya menjadi nilai tambah, kapasitas teknologi, dan daya tawar.
Karena itu, kemandirian tidak harus berarti membuat seluruh teknologi sendiri. Yang lebih penting adalah menguasai atau memiliki kapasitas strategis pada bidang seperti talenta, riset, desain cip, advanced packaging, pusat data, energi, pengolahan material, aplikasi AI, dan standar teknologi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: