Startup China DexForce Latih Robot Humanoid di Dunia Virtual, Pangkas Biaya Pengembangan AI
Pelatihan robot dengan menggunakan VR 3D.-DexForce-X
Selama ini, banyak perusahaan robotika mengandalkan manusia. Orang tersebut memperagakan gerakan berulang kali agar robot dapat mempelajari tugas tertentu.
Proses tersebut memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Terutama ketika dibutuhkan contoh gerakan yang presisi.
DexForce mengembangkan perangkat lunak AI untuk menciptakan lingkungan kerja virtual. Serta model yang memprediksi bagaimana benda bergerak dan berinteraksi.
BACA JUGA:Hesai Luncurkan Kamera 3D Kosmo, Percepat Pengembangan Robot AI Tiongkok
BACA JUGA:Hong Kong Pamerkan 120 Robot Berbasis AI, Produsen Tiongkok Bidik Pasar Global
Teknologi itu memungkinkan pelatihan dilakukan dalam berbagai skenario. Kemudian keterampilan akan diterapkan pada mesin fisik.
Meski demikian, simulasi tidak sepenuhnya menggantikan data dari dunia nyata. Sebagian besar produsen robot Tiongkok masih menggabungkan kedua metode tersebut.
Sebab, data berkualitas tinggi tetap menjadi kendala utama dalam pengembangan robot. Terutama robot yang mampu bekerja secara adaptif.
Tantangan itu penting. Karena kemampuan robot melakukan gerakan akrobatik belum tentu menjamin keberhasilan saat menangani pekerjaan industri.
BACA JUGA:Menilik Industri Robotika Tiongkok yang Kian Maju: Robot Pun Cari Pekerjaan
BACA JUGA:Ketika Robot-Robot Tiongkok Mulai Bersiap ’’Gantikan Manusia’’: Mulai Magang di pabrik-Pabrik
Robot harus mampu mengenali objek, menyesuaikan gerakan, dan menyelesaikan tugas meski kondisi lingkungan berubah.
Didukung Investor Besar, Himpun Dana Rp2,3 Triliun
Dex Force didirikan pada 2021 oleh Jia, profesor pembelajaran mesin di Chinese University of Hong Kong, Shenzhen. Perusahaan itu kini memiliki sekitar 500 karyawan.
Perusahaan tersebut didukung Lenovo Capital, perusahaan investasi milik Lenovo; Lens Technology, serta sejumlah dana investasi Tiongkok.
DexForce juga menghimpun pendanaan Seri B sebesar 1 miliar yuan atau sekitar US$147 juta, dengan valuasi perusahaan melampaui 10 miliar yuan atau sekitar Rp2,35 triliun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: