PPI AS Melonjak 6,3 Persen, Bitcoin Tertekan, Dibayangi Risiko Penurunan
Ilustrasi penurunan harga Bitcoin setelah pengumuman data resmi Produser price index (PPI) Kamis, 15 Oktober 2026.-GPT-
Tekanan terhadap Bitcoin juga muncul setelah inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) naik menjadi 3,7 persen secara tahunan pada September. Inflasi inti yang tidak memasukkan pangan dan energi meningkat menjadi 2,6 persen secara tahunan.
Data CPI tersebut lebih dahulu memicu kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter. Dalam perdagangan Kamis, 15 Oktober 2026, Bitcoin sempat turun sekitar 3,2 persen ke kisaran USD80.791. Laporan investing.com itu mendekati level terendah sejak 20 September 2026.
BACA JUGA:Gila! Main Tebak Skor Piala Dunia 2026 Bisa Dapat Hadiah Bitcoin Rp 22 M
BACA JUGA:Kapal Tanker Kini Harus Bayar Bitcoin untuk Lewati Selat Hormuz
Laporan CryptoWave menyoroti tekanan Bitcoin hingga USD79.000. Meski demikian, pergerakan harga kripto berlangsung cepat sehingga level tersebut perlu dibedakan dari harga perdagangan pada waktu laporan pasar lainnya diterbitkan.
Peluang kenaikan suku bunga dapat menekan aset kripto karena investor berpotensi mengalihkan sebagian dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih pasti, seperti obligasi pemerintah AS. Suku bunga yang lebih tinggi juga dapat memperketat likuiditas dan mengurangi selera risiko di pasar keuangan.
Pasar Menanti Langkah The Fed
Kombinasi kenaikan CPI dan PPI membuat keputusan The Fed menjadi perhatian utama investor. Bank sentral AS harus menimbang risiko inflasi yang kembali menguat dengan kondisi pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi.
The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin pada September ke kisaran 3,75–4,00 persen. Setelah data inflasi konsumen dirilis, perhatian pasar beralih pada kemungkinan pengetatan lanjutan, termasuk dalam pertemuan kebijakan 27-28 Oktober 2026.
BACA JUGA:Internet di Kazakhstan Diputus, Penambangan Crypto dan Bitcoin Merosot
BACA JUGA:Gila! Main Tebak Skor Piala Dunia 2026 Bisa Dapat Hadiah Bitcoin Rp 22 M
Namun, kenaikan suku bunga belum menjadi keputusan yang pasti. Pejabat The Fed masih perlu menilai apakah tekanan harga bersifat sementara, terutama akibat energi, atau mencerminkan inflasi yang lebih luas dan bertahan lama.
Bagi Bitcoin, arah kebijakan moneter AS akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan sentimen jangka pendek. Jika inflasi terus melampaui ekspektasi dan peluang kenaikan suku bunga meningkat, aset kripto berpotensi menghadapi tekanan lanjutan.
Sebaliknya, meredanya inflasi atau munculnya sinyal kebijakan yang lebih lunak dapat membantu memulihkan minat investor terhadap aset berisiko. (*)
*) Mahasiswa Magang Prodi Bahasa Inggris untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional Polinema.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: