PECINAN: Wei Wu Bu Neng Qu, Konsisten Menjaga Integritas Moral

PECINAN: Wei Wu Bu Neng Qu, Konsisten Menjaga Integritas Moral

KAKAK BERADIK Bo Yi dan Shu Qi benar-benar konsisten memegang prinsip wei wu bu neng qu. Tak tunduk kepada kekuasaan dan ancaman.-Devona Vaiya/AI-Harian Disway

HARIAN DISWAY - Sejauh mana seseorang harus mempertahankan prinsip moralnya ketika kondisi politik sudah melenceng jauh dari kebenaran? Haruskah tetap teguh, meski harus tersingkir dari kekuasaan atau bahkan hidup dalam penderitaan? Ataukah perlu berkompromi, "pindah dari luar ke dalam", demi memperbaiki dari dalam?

Ribuan tahun silam, masyarakat Tiongkok telah memperdebatkan persoalan pelik itu melalui kisah dua bersaudara: Bo Yi (伯夷) dan Shu Qi (叔齊). Keduanya adalah tokoh legendaris yang hidup pada masa pergantian Dinasti Shang (商) ke Dinasti Zhou (周), sekitar abad ke-11 SM.

Bo Yi dan Shu Qi adalah putra penguasa Guzhu (孤竹国), negara kecil di daerah yang kini menjadi bagian dari Provinsi Hebei, dekat Beijing. Sang ayah sebenarnya menghendaki Shu Qi, putra bungsunya, menjadi penerus.

Tetapi, setelah ayahnya wafat, ia justru menolak mengambil kedudukan tersebut. Menurutnya, sang kakak, Bo Yi, lebih berhak menjadi pewaris takhta.

BACA JUGA:PECINAN: You Yan Zhe Bu Bi You De, Pandai Bicara Filosofis Tak Otomatis Berintegritas Moral

BACA JUGA:PECINAN: Shang You Suo Hao, Xia Bi Shen Yan, Yang Dilakukan Pemimpin, Ditirukan Bawahan

Masalahnya, Bo Yi pun menolak. Ia merasa tidak pantas mengambil kedudukan yang sebelumnya telah diperuntukkan bagi Shu Qi oleh ayah mereka. Karena tidak menemukan jalan keluar, mereka akhirnya memilih meninggalkan negeri mereka.

Ujian yang lebih besar datang ketika Dinasti Shang memasuki penghujung kekuasaan. Penguasa Shang ketika itu adalah Di Xin (商紂王), yang terkenal kejam dan korup.

Di waktu yang sama, kekuatan Zhou semakin berkembang. Setelah Raja Wen dari Zhou (周文王) wafat sekitar 1050 SM, putranya, Raja Wu (周武王), melanjutkan upaya ayahnya untuk memperkuat Zhou. Ia kemudian mengumpulkan pasukan dan bergerak melawan Shang untuk menggulingkan pemerintahan Di Xin.

Secara politik, tindakan Zhou dapat dibenarkan: Shang dianggap telah kehilangan legitimasi akibat pemerintahan Di Xin yang zalim. Dalam konsep "Mandat Langit" (天命) yang berkembang dalam filsafat politik Tiongkok klasik, ketika seorang penguasa tidak lagi menjalankan kebajikan, "Langit" dapat mencabut mandatnya dan memberikannya kepada penguasa baru.

BACA JUGA:PECINAN: Yu Er Zi Zhuan, Shi Bu Zhi, Penguasa Perlu Bermuhasabah

BACA JUGA:PECINAN: You Luan Jun, Wu Luan Guo, Penguasa Mengacaukan Negara

Tetapi, Bo Yi dan Shu Qi tidak melihat persoalannya sesederhana itu. Ketika pasukan Zhou hendak menyerang Shang, keduanya bahkan menghadangnya. Sikap mereka tergambar dalam sumpah yang kemudian terkenal: "Raja Wu hendak menyerang Shang; kami tidak tega memakan gandum milik Zhou" (武王伐紂,吾不忍食周粟).

Setelah Zhou berhasil menggulingkan Shang dan mendirikan dinasti baru, mereka benar-benar menepati janji itu: tidak menyantap hasil bumi dari negeri yang kekuasaannya mereka anggap diperoleh melalui penggulingan terhadap yang liyan. Keduanya kemudian memilih mengasingkan diri ke sebuah gunung dan bertahan hidup dengan memakan tanaman liar hingga akhirnya mati kelaparan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: