Runtuhnya Hegemoni Barat, Awal Peradaban Baru Dunia

Runtuhnya Hegemoni Barat, Awal Peradaban Baru Dunia

ILUSTRASI Runtuhnya Hegemoni Barat, Awal Peradaban Baru Dunia.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

Prancis bergolak, merembet ke Italia, Albania, dan mungkin meluas ke sejumlah negara di Eropa. Amerika Serikat (AS), pemegang hegemoni peradaban dunia selama hampir satu abad, gagal total dalam kampanye militer di Iran. Israel makin dikucilkan dan dukungan terhadap Palestina datang dari seluruh penjuru dunia. 

Sementara itu, di Timur, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) kian mendominasi perdagangan dunia. Selain Tiongkok, di Timur juga ada Rusia yang sering kali mengambil sikap diameteral dengan Barat, dan Korea Utara yang tetap tertutup tetapi dengan misi yang kasatmata: melawan hegemoni AS. Apakah ini sinyal runtuhnya hegemoni Barat dan lahirnya tata dunia atau peradaban baru dunia?

”Revolusi Prancis II”

Netizen menuliskan kata ”Revolusi Prancis II”. Belum seperti Revolusi Prancis, tetapi apa yang kita saksikan di berbagai kota seperti Paris, Limoges, Lyon, Marseille, Lille, dan Bordeaux dalam sepekan terakhir bukan tidak mungkin meluas menjadi pemicu perubahan besar di Prancis. 

Demo di Prancis bisa dipastikan membawa perubahan kepemimpinan politik di pemerintahan setempat. Namun, ”Revolusi Prancis II” bisa menjadi pelatuk terjadinya perubahan lanskap sosial politik di Eropa.

BACA JUGA:Mitos 'Buku dari Barat': Arkeologi Pengerdilan dan Genealogi Hegemoni

BACA JUGA:Dedolarisasi, Dehegemoni, dan Reorientasi Ekonomi Global

Demo dan kerusuhan yang terjadi di Prancis memang berawal dari isu domestik: beban ekonomi masyarakat yang makin berat dan beban jam sekolah yang dianggap melewati batas, dari pukul 8 pagi sampai 6 sore. 

Isu domestik bisa menjadi pemicu gejolak dalam sebuah negara. Namun, dalam perspektif yang lebih luas, isu domestik sekaligus menjadi cermin rapuhnya peradaban sebuah bangsa atau wilayah. 

Jika kita kaji dari pendekatan perebutan hegemoni peradaban dunia pasca-Perang Dunia II antara Barat dan Timur, setelah hampir satu abad menguasai dunia, peradaban Barat yang ”dikomando” AS dan negara-negara Eropa Barat pelan tapi pasti akan runtuh. Saat ini kerusuhan di Prancis telah meluas ke sejumlah negara lain di Eropa seperti Italia, Albania, Belgia, dan Portugal. 

Isu utama demo di sejumlah negara tersebut sama: biaya hidup yang kian mahal, termasuk biaya bahan bakar minyak, pengangguran yang tinggi, dan akses terhadap tempat tinggal yang terjangkau. Selain itu, isu imigran menjadi salah satu topik dalam demo di Spanyol dan Jerman. Pada akhirnya, negara-negara Eropa memikul beban atas persoalan yang mereka ciptakan sendiri. 

BACA JUGA:Dedolarisasi, Strategi LCS Melawan Hegemoni America First ala Trump

BACA JUGA:Deklarasi Kazan: Rivalitas Hegemoni Ekonomi BRICS versus G-7?

Prancis adalah negara yang multikultural. Banyak imigran. Demo di Prancis lebih ke persoalan ekonomi rakyat, tidak terkait isu pendatang. Berbeda dengan di Spanyol atau Jerman. Di Spanyol, demo anti-Islam mulai muncul ke permukaan. Pun di Jerman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: