USG di Tangan Bidan, untuk Siapa?
ILUSTRASI USG di Tangan Bidan, untuk Siapa?-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
Jangan Sampai Ibu Hamil Menjadi Pasar
Nah, kekhawatiran terbesar saya adalah komersialisasi, dan tandanya sebenarnya sudah mulai terlihat. Beberapa waktu lalu saya melihat flyer di Instagram dari sejumlah praktik bidan mandiri yang mulai menawarkan layanan USG kehamilan. Saya yakin niatnya baik, yaitu ingin memberikan pelayanan yang lebih lengkap bagi ibu hamil.
Namun, ketika USG sudah ditawarkan lewat media promosi, ia pelan-pelan bergeser dari alat bantu klinis menjadi layanan yang ”dijual”, dan ibu hamil bisa datang karena ingin melihat janinnya, bukan karena ada indikasi medis.
Kekhawatiran itu juga ada dasar ilmiahnya. Sebuah tinjauan sistematis yang terbit 2024 merangkum 40 penelitian di negara berpenghasilan rendah-menengah, menemukan USG pelan-pelan menjadi cara utama memantau kehamilan dan menggeser komponen ANC yang justru penting secara klinis.
Penyedia yang berorientasi profit ikut mendorong pemeriksaan yang tidak perlu. Di perdesaan Vietnam Utara, banyak ibu hamil yang sampai membeli delapan hingga sepuluh kali USG dalam satu kehamilan.
Yang tergerus biasanya hal-hal yang kelihatannya sepele: anamnesis, tensi, dan cek protein urin. Padahal, dari situlah kita menangkap preeklamsia, salah satu penyebab utama kematian ibu, yang tidak akan tampak di USG dasar.
Masalah lain adalah pergeseran kunjungan. Di lapangan, tidak sedikit ibu hamil yang ke puskesmas hanya pada kunjungan pertama, lalu melanjutkan di praktik bidan atau SpOG, sehingga pemeriksaan dokter di trimester ketiga terlewat. Kalau praktik bidan juga menawarkan USG, saya khawatir ibu merasa ”sudah di-USG, berarti aman”.
Satu lagi, angka deteksi kelainan janin lewat USG dilaporkan berkisar 15 hingga lebih dari 90 persen, salah satunya bergantung pengalaman operator. Uji klinis besar first look di lima negara, yang melatih bidan dan tenaga kesehatan lain melakukan USG antenatal, juga tidak menemukan penurunan kematian ibu maupun bayi. Buat saya, pelajarannya jelas: USG baru bermakna kalau sistem rujukan di belakangnya berjalan.
Saya juga paham ada persoalan yang lebih mendasar. Kesejahteraan tenaga kesehatan di layanan primer, bidan maupun dokter umum, masih menjadi pekerjaan rumah kita, terutama bagi tenaga honorer dan mereka yang bertugas di daerah dengan jasa pelayanan kecil.
Dalam kondisi seperti itu, wajar kalau muncul dorongan menambah layanan yang bernilai jual, dan USG jelas pilihan yang paling menarik. Nah, di sinilah negara harus hadir.
Menata, Bukan Menolak
Saya tidak sedang menolak peran bidan. Bidan adalah ujung tombak kesehatan ibu, dan di daerah terpencil tanpa dokter, USG terarah oleh bidan dengan supervisi jarak jauh bisa benar-benar menolong.
Maka, ada dua hal yang perlu kita perjuangkan. Pertama, kesejahteraan bidan dan dokter umum di layanan primer harus menjadi agenda perbaikan tersendiri, lewat jasa pelayanan yang layak dan status kepegawaian yang jelas.
Kedua, tata kelola layanannya. Rantai komando harus jelas sehingga bidan, dokter umum, dan SpOG tahu perannya masing-masing dalam satu alur. Batas kewenangan juga perlu ditulis tegas. Untuk bidan, USG cukup untuk menilai letak kehamilan, jumlah janin, denyut jantung, presentasi, letak plasenta, dan air ketuban. Skrining kelainan, apalagi menentukan jenis kelamin, berada di luar itu.
Lalu, bagaimana dengan bidan praktik mandiri yang ingin membuka layanan USG? Menurut saya, itu bisa menjadi alternatif, asalkan ada supervisi SpOG yang jelas: kerja sama tertulis, hasil dan citra USG dievaluasi berkala, serta temuan yang meragukan langsung dirujuk. USG juga tidak dijual sebagai layanan tersendiri tanpa indikasi, dan tidak menggantikan kunjungan dokter pada trimester pertama dan ketiga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: