Terkumpul 559 Riset, EJAVEC 2026 Rumuskan Solusi Strategis Pembangunan Jawa Timur

Terkumpul 559 Riset, EJAVEC 2026 Rumuskan Solusi Strategis Pembangunan Jawa Timur

Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak bersama Kepala Kantor Perwakilan BI Jatim Ibrahim, Founder Harian Disway Dahlan Iskan dan ratusan peserta dalam EJAVEC 2026 di Vasa Hotel, Rabu 21 Oktober 2026-Edi Susilo Disway -

SURABAYA, HARIAN DISWAY – Potensi ekonomi Jawa Timur yang melimpah memerlukan fondasi kebijakan yang presisi. Bank Indonesia (BI) bersama Pemprov Jawa Timur mendorong pemanfaatan hasil riset dan kajian ilmiah akademisi sebagai pijakan utama penyusunan kebijakan pembangunan daerah.

Dorongan tersebut mengemuka dalam gelaran East Java Economic Forum (EJAVEC) 2026 di Hotel Vasa Surabaya, Rabu, 21 Oktober 2026. Forum tahunan itu menjadi ruang krusial bagi peneliti, akademisi, hingga mahasiswa untuk membedah persoalan ekonomi daerah sekaligus merumuskan solusi konkret.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Ibrahim menegaskan, kompleksitas tantangan ekonomi di Jawa Timur tidak bisa diselesaikan oleh satu lembaga. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus dijaga agar tetap inklusif dan dirasakan secara merata oleh masyarakat.

"Esensi dari EJAVEC adalah membuka partisipasi publik melalui pemikiran akademis yang teruji dan bersistem," ujar Ibrahim.

BACA JUGA:BI Jatim: Investasi Harus Tembus Rp220 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen pada 2029

BACA JUGA:Antisipasi Gejolak Ekonomi Global, BI Jatim Fokus Kendalikan Inflasi dan Pertumbuhan Industri

Ibrahim memastikan, hasil penelitian dalam EJAVEC tidak akan berakhir sebatas tumpukan berkas akademis. BI berkomitmen mengawal riset-riset terbaik tersebut sebagai bahan policy advisory (rekomendasi kebijakan) resmi kepada pemerintah daerah.

Ibrahim menyebut, animo peserta yang mendaftarkan riset dalam EJAVEC terus meningkat setiap tahunnya. Dalam penyelenggaraan EJAVEC ke-13 ini, total ada 559 karya riset tulis terkumpul. ”Sementara pada penyelenggaraan EJAVEC pada 2014, yang mengumpulkan papper baru 22 kelompok,” katanya. 

Dalam EJAVEC kali ini, ada sejumlah isu strategis yang diangkat. Mulai dari pengembangan UMKM, pariwisata, ketahanan pangan, hingga kesenjangan kompetensi tenaga kerja.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyoroti besarnya kontribusi Jawa Timur terhadap perekonomian nasional yang mencapai sekitar 14,9 persen. Angka tersebut memperlihatkan betapa strategisnya dinamika ekonomi Jatim untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. 

Meski begitu, Emil menekankan masih ada sejumlah tantangan yang harus dihadapi Jawa Timur untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi. Di antaranya perbedaan karakteristik wilayah, ketimpangan pembangunan kawasan utara dan selatan, konektivitas antardaerah, perlindungan lahan pertanian, hingga transisi energi menuntut pendekatan yang berbeda.

Untuk itu, Emil berharap EJAVEC bisa menjadi solusi dalam membantu pemerintah dalam memetakan sejumlah permasalahan tersebut. "Hasil penelitian dalam forum ini yang membantu pemerintah memahami perbedaan karakteristik wilayah, sehingga kebijakan yang dilahirkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan daerah," kata Emil.

Sementara itu, Founder Harian Disway Dahlan Iskan juga menjadi pembicara dalam forum tersebut memberikan sejumlah masukan untuk akselerasi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur. Salah satunya soal membangkitkan ekonomi di wilayah selatan Jawa Timur. Yang dikenal sebagai wilayah ”miskin” secara pertumbuhan ekonomi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: