Clungup Mangrove Conservation (CMC) Jadi Inisiatif Pulihkan Pesisir Malang Selatan
ZULHAM AKHMAD MUBAROK, anggota DPRD Kabupaten Malang, berbicara tentang konservasi alam dan regulasi sampah plastik.--PDIP Jatim
Sebagai wakil rakyat yang berlatar belakang insan media dan penggerak ekonomi digital, kira-kira bagaimana Anda memandang kawasan hutan dan pesisir Malang Selatan saat ini?
​Potensinya tinggi untuk dikembangkan. Satu sebagai paru-paru penghasil oksigen karena wilayah kita ini kan hari ini kan ada dua sebenarnya secara kultur, bahwa ada istilah Malang Utara dan Malang Selatan. Kalau bicara kemajuan perekonomian Malang Utara sudah lebih mendahului.
BACA JUGA:Surat Usul Pemakzulan Gibran Beredar di DPR, Begini Tanggapan Istana, NasDem, dan PDIP
BACA JUGA:Fraksi PDIP DPRD Jatim Desak Pemprov Atasi Maraknya Kios Kosong di Pasar Tradisional
Nah, Malang Selatan ini idealnya memang area konservasi, area ekonomi kreatif yang tentunya masih luas penerjemahannya, dan yang ketiga ini akan menjadi area pertumbuhan ekonomi baru bagi wilayah Kabupaten Malang.
Karena kalau berbicara daya dukung infrastrukturnya, hari ini kita saksikan tol yang merupakan salah satu infrastruktur utama ini kan sudah hampir tembus ke area Malang Selatan.
Ketika jalan ini tembus dari kota sampai ke area Malang Selatan ditambah ada jalur sirip yang menghubungkan antara exit tol dengan JLS, saya pastikan tiga atau empat tahun ke depan, Bali ini akan bisa kita gantikan.
Malang Selatan ini ekosistemnya bagus, pantainya juga bagus, potensi konservasinya ada, wisatanya pun potensinya tinggi.
BACA JUGA:Guruh Soekarnoputra Berpulang, PDIP Jatim Kehilangan Sosok yang Punya Jejak Panjang Politik dan Seni
BACA JUGA:PDIP Usul Capres Minimal Diusung 2 Partai dan Maksimal 4 Partai
Apakah sudah dikelola dengan baik untuk ekologis yang berharga ini?
Salah satu yang kemarin kita jadikan titik gerakan dari PDIP di Malang Selatan ini kemarin Mbak Sekjen kan datang ke CMC, Clungup.
Clungup ini pantai konservasi sebenarnya. Masuknya sulit, antre dulu, dibatasi sekian orang sekian hari. Dan, pada hari-hari tertentu kosong tidak boleh ada yang masuk.
Kenapa? Karena historisnya pada 1998 ini area yang rusak parah. Lalu, warga, anak-anak muda berkumpul, dan mereka bikin komunitas mengurus perizinan disetujui oleh pemerintah dijadikan area konservasi.
BACA JUGA:Karhutla dan Kekeringan Jatim Jadi Bahasan Utama Konsolidasi Internal PDIP di Situbondo
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: