Ketika Bom Memilih Peran Keluarga

Ketika Bom Memilih Peran Keluarga

ILUSTRASI Ketika Bom Memilih Peran Keluarga.-AI/ARYA-HARIAN DISWAY-

Ledakan MOAB itu  luas. Tapi, bukan penghancur bunker paling dalam. AS punya senjata lain untuk itu. Palu godam memang mengerikan. Tapi, jangan dipakai memperbaiki arloji. Rusak.

Jadi, kenapa namanya diumbar-umbar. Sebab, ancaman itu bekerja sebelum bomnya dijatuhkan. Lawan sudah pusing duluan. Pasar gelisah. Jenderal sibuk menimbang. Diplomasi jalan sambil sesekali melirik ke atas.

Ibu sudah pernah bekerja. Teheran rupanya tidak mau jadi penonton saja.

Bapak Mau Punya Akta

Pada 21 Oktober, Garda Revolusi Iran mengumumkan persiapan memperkenalkan Father of All Bombs. Belum ada demonstrasi. Belum ada spesifikasi. Belum ada apa-apa. Baru nama.

Seperti orang buka warung. Papan namanya sudah dipasang. Dagangannya belum ada.

Yang bikin saya geli, tiga hari sebelumnya, juru bicara Garda Revolusi mengecam AS karena memakai kata mother untuk senjata penghancur. Katanya tidak pantas.

Tiga hari kemudian, father justru dipersilakan hadir. Ibu tidak pantas. Bapak dapat dispensasi.

Nah, ini bukan soal senjata lagi. Ini soal rumah tangga.

Iran sebenarnya pernah mengeklaim bom 10 ton pada 2017. Rusia sudah memakai julukan Father of All Bombs sejak 2007.

Jadi, gelar kepala keluarga pun diperebutkan. Seperti warisan. Tapi, isinya bom.

Tapi begini, ya.

Strategi tidak dinilai dari nama. Yang menentukan, bisakah senjata itu diantarkan. Bisakah sasaran dilumpuhkan. Bisakah hasilnya mengubah keputusan lawan.

Menghancurkan gedung tidak sama dengan mengakhiri perang. Ini beda antara daya ledak dan daya paksa.

Yang pertama meledak. Yang kedua membuat orang menurut. Tidak semua negara mau ikut pemilihan nama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: