Ketika Bom Memilih Peran Keluarga

Ketika Bom Memilih Peran Keluarga

ILUSTRASI Ketika Bom Memilih Peran Keluarga.-AI/ARYA-HARIAN DISWAY-

Gangguan situs bukan bukti Jong-un meninggal. Keduanya juga belum terbukti berkaitan. Namun, pelajarannya tetap menohok.

Saat saluran resmi tersendat, ruang kosong langsung diisi orang yang tidak tahu, tapi terdengar paling yakin. Dalam krisis, rumor bisa berlari lebih cepat daripada klarifikasi.

Negara dengan rudal antarbenua ternyata bisa kehilangan akses stabil ke situs beritanya. Rudal bisa melintasi samudra. Keterangan resmi tersangkut jaringan. Ironi, bukan?

Empat Peran, Satu Keluarga

AS mempertontonkan daya hancur. Iran menjual daya gentar. Tiongkok memperlihatkan daya putus. Korea Utara menunjukkan mahalnya kekosongan informasi.

Untuk Indonesia, pertanyaannya bukan apakah kita punya bom terbesar. Melainkan, apakah bank, pelabuhan, rumah sakit, dan layanan pemerintah tetap bekerja saat jaringan terganggu.

Apakah informasi resmi cukup cepat mengalahkan kabar bohong.

AS boleh punya ibunya. Iran boleh mencalonkan bapaknya. Tetapi, kalau keluarga bom itu benar-benar bertengkar, jangan berharap perang mengenal fitur pesan yang paling kita sukai.

Hapus pesan ini untuk semua orang. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: