Ketika Bom Memilih Peran Keluarga
ILUSTRASI Ketika Bom Memilih Peran Keluarga.-AI/ARYA-HARIAN DISWAY-
Tiongkok tidak mengumumkan bom baru. Ia malah bawa gunting.
Tiongkok Sibuk Cari Gunting
Maret 2025, peneliti Tiongkok memperkenalkan alat pemotong kabel bawah laut. Katanya bisa bekerja di kedalaman 4.000 meter.
Gunting. Iya, gunting! Bukan untuk memotong pita peresmian. Melainkan, untuk memotong kabel.
Perangkat itu katanya untuk keperluan sipil. Tapi, kajian komisi AS pada September 2026 memperingatkan, teknologi tersebut bisa disalahgunakan untuk mengganggu kabel komunikasi trans-Pasifik.
Belum ada bukti Beijing memerintahkan pemotongan. Kemampuan tidak sama dengan keputusan. Orang punya golok belum tentu mau menebang.
Tapi, ini yang bikin saya ngeri. Jaringan bawah laut itu menopang bank, pelabuhan, komunikasi pemerintah, dan layanan digital.
Satu kabel putus, internet belum tentu mati. Ada cadangan. Tapi, kalau putusnya beruntun. Bisa lambat. Dan, saat lambat itu, keputusan justru harus dibuat cepat.
Bom merobohkan gedung. Gangguan komunikasi menghambat orang yang mau menyelamatkan penghuninya.
Bedanya tipis. Akibatnya tebal. Gunting mengingatkan, jaringan bisa diputus. Tapi, ada yang lebih murah dan lebih cepat. Ketika saluran resmi tersendat, rumor langsung ambil alih. Itulah yang terjadi di Korea Utara.
Korea Utara Kehilangan Suara
Pada 20 sampai 21 Oktober, sekitar 42 situs Korea Utara tidak stabil atau sulit diakses. Termasuk media pemerintah dan maskapai nasionalnya.
Penyebabnya belum pasti. Belum ada bukti serangan dari luar.
Hampir bersamaan, beredar rumor Kim Jong-un meninggal dunia karena pendarahan otak. Sumbernya unggahan seorang pembangkang Tiongkok di AS.
Tidak ada bukti. Media negara melaporkan Jong-un mengunjungi pameran pada 19 Oktober. Tapi, waktu foto itu diambil belum bisa dipastikan. Jangan disatukan, ya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: