WNI Dibunuh Pengidap Skizofrenia di Jerman: Ya… Sudah Nasib
ILUSTRASI WNI Dibunuh Pengidap Skizofrenia di Jerman: Ya… Sudah Nasib.-AI/ARYA-HARIAN DISWAY-
Tujuannya bukan memberikan cap bahwa seseorang pasti akan membunuh, melainkan mengenali faktor yang meningkatkan atau mengurangi kemungkinan kekerasan.
Tidak ada metode yang dapat meramalkan perilaku kekerasan dengan kepastian mutlak. Penilaian dapat menghasilkan perkiraan yang keliru. Jika semua pengidap skizofrenia dianggap berbahaya, banyak orang yang tidak melakukan kekerasan akan mengalami stigma dan pembatasan yang tidak perlu.
Sebaliknya, apabila tanda bahaya yang nyata diabaikan, kesempatan mencegah kekerasan bisa terlewat.
Tantangannya adalah mengambil keputusan berdasarkan bukti, bukan ketakutan atau prasangka.
Di sisi lain, keselamatan masyarakat memerlukan pengelolaan risiko. Penilaian tidak berhenti pada pertanyaan apakah seseorang berpotensi melakukan kekerasan.
Hasilnya harus menjadi dasar tindakan yang proporsional, seperti perawatan yang sesuai, pemantauan klinis, dukungan keluarga, evaluasi ulang ketika kondisi berubah, atau pengawasan dan perawatan yang lebih ketat apabila memang diperlukan serta dibenarkan oleh hukum.
Buku itu tidak menganggap pengidap skizofrenia sebagai ancaman tersembunyi. Yang dibutuhkan adalah layanan kesehatan mental yang dapat diakses, penilaian klinis yang memadai, pertukaran informasi yang sah, serta mekanisme penanganan yang menyeimbangkan hak individu dengan keselamatan publik.
Teori Heilbrun dan King itu tetap ”gelap” bagi masyarakat awam Indonesia. Sebab, pengidap skizofrenia tidak bisa ditandai saat mereka bergaul di masyarakat. Jangankan di Indonesia, di negara semaju Jerman pun ada pengidap yang berkeliaran di masyarakat.
Solusinya jadi tidak rasional: pasrah. Jika suatu saat Anda bertemu skizofrenia dan Anda dibunuh, ya nasib. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: