Memprioritaskan Kesehatan Para Santri

Memprioritaskan Kesehatan Para Santri

ILUSTRASI Memprioritaskan Kesehatan Para Santri.-AI/GEMINI-

Santri memang mendapat tempat istimewa di Republik Indonesia. Ditinjau dari latar belakang sejarah hingga jumlah absolut para Santri di seluruh negeri, memang pantas ada perlakuan tersendiri bagi kelompok terhormat itu. Satu hari khusus di setiap tahun bahkan disediakan untuk memperingati eksistensi Santri. 

Posisi istimewa tersebut seyogianya dibarengi dengan peningkatan secara berkala dan konsisten di segala bidang, termasuk dalam sektor kesehatan. Dengan jumlah yang sangat besar, masalah kesehatan santri selalu akan berpengaruh terhadap penilaian kesehatan di seluruh negara. Saat ini sedikitnya ada dua hal yang patut mendapat perhatian dalam bidang kesehatan tersebut.

Pertama, menyangkut penyakit kulit di lingkungan pondok pesantren. Situasi kehidupan sehari-hari yang melibatkan banyak orang di lokasi yang relatif terbatas, dengan interaksi yang begitu intens setiap hari memengaruhi kontak antarmanusia. 

Penyakit yang ditularkan melalui kontak, seperti penyakit kulit, maupun melalui saluran napas, akan mudah sekali menyebar. Dalam hal penyakit kulit, lingkungan para santri masih mempunyai pekerjaan rumah besar. 

BACA JUGA:Santripreneur, dari Ngaji ke Nggaji

BACA JUGA:Bukan Sekadar Sami’na wa Atho’na Buta: Menuju Dialektika Santri dan Kiai di Era Modern

Sangat banyak santri yang diperkirakan menderita penyakit kulit, terutama skabies, yang memang mudah sekali ditularkan ke orang terdekat. Penyakit itu terkenal di dunia sebagai anggota kelompok yang diabaikan. 

Ada 20 penyakit yang dinyatakan WHO sebagai neglected tropical diseases. Angka kejadian masih sangat banyak, tetapi perhatian banyak negara relatif terbatas, termasuk mungkin di Indonesia. Penyakit skabies disebabkan Sarcoptes scabiei, mahluk hidup kecil yang pintar menggali terowongan menembus bawah kulit. 

Penyakit itu ditandai dengan munculnya bercak kecil di kulit yang sangat gatal. Penyebaran biasanya dari jari dan telapak tangan dan kaki yang selanjutnya akan menyebar ke daerah lain, terutama yang mudah dicapai oleh anggota gerak karena gerakan menggaruk. Penglihatan awam bahkan dapat mengenali penyakit itu dengan cukup mudah. 

Pengobatan skabies relatif terjangkau dan saat ini tersedia di sebagian besar puskesmas. Namun, memang diperlukan ketelatenan. Pengobatan dengan obat minum dan oles harus dijalankan dengan sungguh-sungguh secara bersama-sama di lingkungan tersebut. 

BACA JUGA:Hari Santri 2026: Generasi Sarungan Menuju Generasi Emas

BACA JUGA:Menjaga Akar, Menuju Masa Depan: Jejak Santri dari Resolusi Jihad hingga Transformasi Digital

Pengobatan sebagian orang saja akan menyebabkan fenomena pingpong, di mana satu orang akan menulari orang lain dan kemudian menulari orang yang pertama dan seterusnya. Keharusan menggunakan obat bagi penderita skabies tidak selama penderita TBC. 

Seharusnya di masa yang relatif singkat kesembuhan yang memuaskan bisa dicapai. Sayang sekali bahwa setelah sembuh, kontak erat dengan penderita skabies lain yang belum sembuh berpotensi menjadi penularan ulang. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: