Santripreneur, dari Ngaji ke Nggaji

Santripreneur, dari Ngaji ke Nggaji

ILUSTRASI Santripreneur, dari Ngaji ke Nggaji.-MAULANA PAMUJI GUSTI-HARIAN DISWAY-

KETIKA memotret pesantren, saya masih merekam banyak cerita. Cerita nyata, bukan fiksi. Nyata karena dulu saya pernah menjadi bagian dari cerita. Antara mengaji dan bisnis. Antara cari ilmu dan cari duit. Itu dulu, bagaimana sekarang. Berubahkah? Ada pemandangan yang dulu tidak pernah kita bayangkan di pesantren. 

Pagi hari seorang santri masih melantunkan Alfiyah karya Ibnu Malik di aula. Siang harinya santri yang sama memeriksa laporan penjualan di laptop. Malamnya ia kembali menjadi imam salat berjamaah.

Dulu pesantren identik dengan kotak amal yang diedarkan setiap Jumat. Kini banyak pesantren yang justru menjadi donatur. Dulu santri hidup dengan kemandirian dalam arti mencuci baju dan memasak sendiri. Kini kemandirian itu naik kelas: ”mampu menggaji, tidak hanya mengaji”. 

Kemandirian yang telah bertransformasi. Kemandirian dalam konsep klasik dan kemandirian pemaknaan kekinian. Kemandirian yang mengubah wajah pesantren. Itulah wajah baru pesantren Indonesia. Lahirnya generasi yang disebut santripreneur.

BACA JUGA:Santripreneur

BACA JUGA:BUMN Ajarkan Branding ke Santripreneur Madiun

Kita selama ini salah memahami pesantren. Kita menganggap pesantren hanya sebagai lembaga pendidikan agama. Padahal, dalam sejarahnya, pesantren selalu menjadi pusat ekonomi umat. Pada zaman Wali Songo, pesantren adalah pusat perdagangan, pertanian, dan industri rakyat. 

Sunan Drajat dikenal dengan konsepnya yang terkenal, ”berikan tongkat untuk menggembala, jangan hanya memberikan ikan”. Falsafah kemandirian ekonomi sudah ada sejak awal Islam masuk ke Nusantara.

Namun, dalam beberapa dekade terakhir, rantai itu sempat terputus. Pesantren menjadi sangat fokus pada pendidikan agama dan secara ekonomi menjadi bergantung pada iuran santri dan bantuan donatur. Santri yang lulus menjadi alim dalam ilmu agama, tetapi gagap dalam ilmu ekonomi. 

Banyak yang akhirnya kembali ke masyarakat tanpa keterampilan wirausaha yang memadai. Di sinilah negara mencoba hadir melalui sebuah program ambisius bernama One Pesantren One Product (OPOP). Satu pesantren, satu produk unggulan. Gagasan itu sederhana, tetapi revolusioner. Setiap pesantren harus memiliki satu produk ekonomi yang menjadi motor kemandiriannya.

Program tersebut kali pertama digagas serius di Jawa Timur pada 2019, kemudian diadopsi secara nasional oleh Kementerian Agama, Kementerian Koperasi dan UKM, serta Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS). Logikanya cemerlang. Indonesia memiliki lebih dari 39.000 pesantren dengan lebih dari 4,8 juta santri. 

Itulah aset yang sangat besar dan potensial. Jika setiap pesantren memiliki satu produk yang bernilai ekonomi dan dipasarkan secara profesional, potensi bukan sekadar idealitas, melainkan telah masuk ke wilayah realitas ekonomi. Kita sedang berbicara tentang kekuatan ekonomi raksasa yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Produknya pun ternyata bukan main-main. Jika berkeliling ke pesantren-pesantren hari ini, kita akan kaget. Misalnya, di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ada koperasi dengan aset ratusan miliar yang memiliki minimarket, BMT, hingga pabrik air minum. 

Di Pesantren Al-Ittifaq di Ciwidey, santri mengelola pertanian sayur organik seluas puluhan hektare yang memasok sayur ke supermarket premium di Jakarta dan bahkan diekspor ke Singapura. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: