Santripreneur, dari Ngaji ke Nggaji

Santripreneur, dari Ngaji ke Nggaji

ILUSTRASI Santripreneur, dari Ngaji ke Nggaji.-MAULANA PAMUJI GUSTI-HARIAN DISWAY-

Di Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, ada pabrik pupuk organik, pabrik pengolahan kayu, hingga pabrik pengolahan sampah menjadi bahan bakar. Di Gontor, ada puluhan unit usaha dari pertanian hingga percetakan yang keuntungannya untuk membiayai operasional pesantren, dan masih banyak pesantren lainnya yang memiliki keunggulan serupa.

Itulah yang dimaksud dari ngaji ke nggaji. Santri tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan yang menunggu bantuan, tetapi menjadi subjek yang menciptakan lapangan kerja. 

Seorang santri yang dulu hanya belajar fikih muamalah kini mempraktikkan langsung fikih muamalah itu dalam bentuk BMT, koperasi syariah, dan marketplace digital. Namun, mari kita cermati dan kita potret kembali. Perjalanan santripreneur itu tidak semudah jargon di seminar. Ada jurang besar antara idealisme OPOP di atas kertas dan realitas di lapangan.

Jurang pertama adalah soal branding dan kualitas. Banyak produk pesantren yang secara kualitas sudah sangat bagus. Kopinya enak, sarungnya halus, sabun cuci piringnya bersih. Namun, kemasannya masih terkesan asal-asalan. 

Labelnya masih menggunakan desain yang dibuat seadanya di percetakan dekat pesantren, tanpa memikirkan selera pasar milenial. Akibatnya, produk pesantren kalah bersaing bukan karena kualitasnya buruk, melainkan karena penampilannya tidak meyakinkan. Konsumen modern membeli dengan mata terlebih dahulu, baru dengan hati.

Seorang buyer dari salah satu supermarket nasional pernah berkata kepada saya, ”produk pesantren itu jujur. Bahannya bagus, tidak curang. Tapi, packaging-nya membuat kami ragu menaruhnya di rak premium. Harus kami bantu desain ulang.” Itu adalah pekerjaan rumah besar. Santri jago mengaji kitab kuning, tetapi belum banyak jago mengaji ilmu desain grafis dan brand storytelling.

Jurang kedua adalah masalah distribusi dan ekosistem. Itulah penyakit paling mematikan bagi produk UMKM, termasuk produk pesantren. Banyak produk pesantren yang hanya laku di lingkungan pesantren itu sendiri. 

Dijual di koperasi pesantren, dibeli oleh wali santri, dipajang di acara pengajian. Perputaran uangnya hanya di sekitar pesantren. Padahal, untuk menjadi mandiri secara ekonomi, produk pesantren harus tembus pasar di luar pesantren.

Program OPOP sering kali berhenti pada seremoni peluncuran produk. Diberikan bantuan mesin, diberikan pelatihan, lalu difoto bersama. Setelah itu, siapa yang membantu menjualkan? Siapa yang menghubungkan produk kopi dari pesantren di pelosok Jember dengan kedai kopi di Surabaya atau Jakarta? Rantai distribusi itulah yang perlu dibangun.

Kita bisa belajar dari model pesantren yang sudah berhasil. Kunci keberhasilan Sidogiri atau Al-Ittifaq bukanlah pada produknya saja, melainkan juga pada ekosistemnya. Mereka membangun koperasi yang kuat terlebih dahulu sebagai off-taker. 

Koperasi itulah yang menjamin pembelian produk santri, yang memberikan modal, yang mengatur distribusi, dan yang menjaga kualitas. Tanpa koperasi yang profesional, OPOP hanya akan menjadi program yang menumpuk di gudang.

Jurang ketiga, dan ini yang paling krusial, adalah soal mindset. Di banyak pesantren, masih ada dikotomi yang keliru antara ngaji dan bisnis. Ada anggapan bahwa bisnis itu urusan dunia, tidak selevel dengan ngaji yang urusan akhirat. 

Akibatnya, santri yang berbisnis kadang dianggap kurang alim. Padahal, dalam Islam, berdagang adalah sunah nabi. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah seorang pedagang yang sangat sukses sebelum menjadi rasul. Abdurrahman bin Auf, sahabat nabi, adalah konglomerat yang kekayaannya menopang dakwah Islam.

Kiai-kiai sepuh yang visioner sudah memahami itu. Dahulu KH R. As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo pernah mengatakan bahwa pesantren harus kaya. Pesantren tidak boleh miskin. Sebab, kalau pesantren miskin, ia akan mudah didikte oleh yang punya uang. 

Kemandirian ekonomi adalah syarat kemandirian dakwah. Pesantren yang mandiri secara ekonomi akan merdeka dalam bersikap. Ia tidak perlu menadahkan tangan kepada siapa pun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: