Catatan Program Anti Ambyar KJRI Hongkong x Unair: Menjaga Kesehatan Mental Pekerja Migran

Catatan Program Anti Ambyar KJRI Hongkong x Unair: Menjaga Kesehatan Mental Pekerja Migran

Dari kiri: Kompol Ratih, Acting KJRI Baskara, Prof. Suryanto dan Triana Kusumadewi P.hD di Hongkong.-Suryanto for Harian Disway-Suryanto for Harian Disway

Di balik rupiah yang dikirim Pekerja Migran Indonesia (PMI) dari Hongkong, ada perjuangan fisik dan batin. Lidah dibiasakan dengan bahasa baru. Mata dituntut lihai membaca mimik majikan. Badan diperas keringat di Hongkong, pikiran melayang ke rumah. Menemui anak, istri, suami, atau orang tua.

Kiriman uang bisa sampai dalam hitungan detik. Lewat aplikasi. Sekali klik, cring, uang mendarat di kampung halaman.

Rindu beda cerita. Rindu tak punya aplikasi. Kecepatan transfer bank tak pernah bisa dikejar oleh rindu yang ingin pulang. Fisik mereka di Hongkong. Pikiran tertinggal di kampung halaman.

Masalah psikologis itulah yang dibahas dalam acara "Anti Ambyar". Hasil kolaborasi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hongkong dengan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair).

Minggu itu, ruang KJRI Hongkong dipenuhi 125 peserta. Ada PMI, ada staf konsulat. Pukul 08.30 acara dimulai. Pak Baskara dari KJRI membuka forum.

Tiga pembicara tampil bergantian. Saling melengkapi. Kompol Yuliana Ratih dari kepolisian konsulat bicara pencegahan kriminalitas. Saya membedah ketangguhan mental (resilience). Triana Kusuma Dewi, PhD, menutupnya dengan materi cara menjaga kesehatan jiwa.


Program Anti Ambyar hasil kolaborasi Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hongkong dengan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair).-Suryanto for Harian Disway-Suryanto for Harian Disway

Dua topik besar menjadi sorotan utama: cara bertahan secara psikologis di negeri orang dan kesiapan mental saat mudik selamanya ke tanah air.

BACA JUGA:Pusat Kajian Global Migrasi Unair Edukasi Calon Pekerja Migran di Banyuwangi, Cegah Perdagangan Orang

BACA JUGA:Konflik Timur Tengah Memanas, 7.000 Pekerja Migran Asal Jatim Siaga Evakuasi

Tulisan bagian pertama ini mengulas masalah pertama dulu: stres akulturatif.

Bahasanya memang berbau kampus. Terlalu akademis. Ringkasnya begini: stres akulturatif adalah tekanan batin akibat dipaksa beradaptasi dengan lingkungan asing. Bahasa beda, budaya beda, cara omong beda, kebiasaan makan beda.

Terjadi sekali dua kali masih bisa ditahan. Berlangsung tiap hari, batin bisa jebol. Apalagi kalau tak ada teman curhat. WHO mencatat, rasa aman, identitas yang dihargai, dan dukungan komunitas adalah penentu utama kesehatan jiwa seorang migran.

Bayangkan situasi ini: perintah majikan harus dijalankan dalam bahasa yang belum dikuasai betul. Salah tangkap, majikan ngomel. Mau bertanya, sungkan. Pilih diam. Majikan mengira diam tanda sudah paham.

Kesalahpahaman kecil yang menumpuk saban hari ini berubah jadi beban berat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: