Sumpah Pemuda dan Nasionalisme yang Bekerja
SUMPAH PEMUDA 28 Oktober 2026 dan Gagas Gayuh Aji (dosen Fakultas Vokasi, Universitas Airlangga)-FREEPIK-AI/GEMINI-DOK. PRIBADI-
Sumpah Pemuda 1928 bukan sekadar ikrar. Ia adalah keberanian berorganisasi dan mempertemukan perbedaan. Para pemuda saat itu tidak hanya membicarakan persatuan. Mereka mengorganisasikan gagasan menjadi kekuatan politik.
Generasi sekarang mewarisi negara merdeka dan teknologi yang jauh lebih canggih. Ironisnya, persoalan yang dihadapi justru makin membumi. Sampah menumpuk. Lapangan kerja menyempit. Jarak antara ijazah dan pekerjaan makin lebar.
Pandawara menunjukkan bahwa keresahan bisa diubah menjadi tindakan. Namun, gerakan sosial juga punya batas. Data indikatif Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat timbulan sampah 2025 sekitar 34,17 juta ton dari 319 kabupaten/kota pelapor. Persoalan sebesar itu tidak akan selesai oleh relawan yang datang di akhir pekan.
Di sinilah terlihat beda antara popularitas dan dampak. Membersihkan sungai dalam sehari adalah pekerjaan mulia. Menjaga sungai tetap bersih selama sepuluh tahun adalah pekerjaan tata kelola.
BACA JUGA:Peringati Sumpah Pemuda, Khofifah Ajak Generasi Muda Jatim Berdaya, Tangguh, dan Berkarakter
BACA JUGA:Haedar Nashir: Generasi Muda Harus Jadi Penjaga Nilai Sumpah Pemuda
Sampah sebagai Lapangan Kerja
Justru di titik itu isu lingkungan dan isu ekonomi bertemu. Sampah yang kita anggap masalah sebenarnya juga sebuah rantai nilai. Pemilahan, bank sampah, daur ulang, pengomposan, hingga logistik limbah membutuhkan tenaga kerja. Selama ini sebagian besar pekerjaan itu dijalankan secara informal oleh pemulung dan pengepul tanpa perlindungan yang memadai.
Bayangkan jika energi Pandawara dan ribuan komunitas serupa tidak berhenti pada aksi bersih-bersih. Energi itu bisa diarahkan menjadi usaha sosial yang menggaji anak muda secara layak. Kepedulian berubah menjadi profesi. Relawan berubah menjadi pekerja hijau.
Tentu hal tersebut tidak bisa dibebankan kepada anak muda saja. Negara perlu hadir melalui regulasi, anggaran, dan penegakan aturan. Perusahaan semestinya mengurangi limbahnya sendiri sebelum mensponsori aksi bersih pantai. Gerakan pemuda adalah mitra perubahan. Ia bukan subkontraktor gratis bagi pekerjaan negara.
Kritik dan karya juga tidak perlu dipertentangkan. Memprotes pencemaran adalah hak politik yang sah. Mengorganisasi warga untuk mengurangi sampah adalah kerja sosial yang penting. Keduanya saling menguatkan selama tujuannya sama.
Vokasi yang Ditegur Data
Sebagai pengajar di pendidikan vokasi, saya perlu jujur pada satu angka. Pada Mei 2026, TPT tertinggi menurut jenjang pendidikan justru berada pada lulusan SMK, yaitu 7,68 persen. Pendidikan yang dirancang paling dekat dengan dunia kerja ternyata belum tentu paling cepat diterima dunia kerja.
Angka itu adalah teguran bagi kami di dunia vokasi, termasuk di perguruan tinggi. Mahasiswa tidak cukup dibekali keterampilan teknis. Mereka perlu belajar dari persoalan nyata dan membaca peluang ekonomi di dalamnya.
Mahasiswa teknik bisa merancang pengolahan sampah sederhana. Mahasiswa bisnis bisa membenahi model usaha bank sampah. Mahasiswa komunikasi bisa merancang kampanye perubahan perilaku.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: