Sumpah Pemuda: Setelah Orasi
ILUSTRASI Sumpah Pemuda: Setelah Orasi.-MAULANA PAMUJI GUSTI-HARIAN DISWAY-
SPANDUK telah digulung, lalu pengeras suara kembali diam. Mahasiswa meninggalkan jalanan setelah menyampaikan kegelisahan mengenai ekonomi, korupsi, lingkungan, dan kebebasan sipil. Menjelang Sumpah Pemuda, peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran pada 20 Oktober menghadirkan pertanyaan yang pantas diajukan kepada dua pihak sekaligus: setelah orasi, apa yang dikerjakan kaum muda, dan apa yang dipersiapkan negara bagi mereka?
Demonstrasi bukan sesuatu yang patut dicurigai hanya karena mengganggu ketenangan kekuasaan. Ia bagian dari percakapan demokrasi. Namun, keberanian berteriak belum otomatis menjadi kemampuan mengubah keadaan. Perjuangan membutuhkan napas panjang; masa depan membutuhkan lebih dari sekadar janji.
Pesan dari 1928
Dalam Kongres Pemuda Kedua, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, Batavia, seorang pembicara perempuan bernama Poernomowoelan mengangkat persoalan pendidikan. Bersama Sarmidi Mangoensarkoro, dia menekankan pendidikan kebangsaan, keseimbangan sekolah dan keluarga, serta pendidikan yang demokratis. Dia juga mengingatkan agar kebiasaan memanjakan anak ditinggalkan.
BACA JUGA:Sumpah Pemuda: Dari Sumpah Persatuan Menuju Ujian Peradaban
BACA JUGA:Sumpah Pemuda dan Nasionalisme yang Bekerja
Pesannya mengusik, mengapa karakter dibicarakan ketika bangsa sedang merumuskan persatuan? Sebab, memang sebuah ikrar hanya bermakna apabila ada manusia yang sanggup menanggung konsekuensinya.
Pemuda 1928 tidak sekadar pandai berpidato. Mereka mengorganisasi pertemuan, melampaui perbedaan daerah, mengumpulkan dukungan, dan bekerja tanpa jaminan bahwa kemerdekaan akan segera datang.
Namun, jangan keliru membaca Poernomowoelan. Menghindari sikap manja bukan alasan untuk membungkam suara muda. Pendidikan demokratis justru mengajarkan kebebasan berpikir, sedangkan pendidikan watak mengajarkan kesanggupan mempertanggungjawabkan pilihan.
Bangsa memerlukan keduanya: keberanian melawan ketidakadilan dan ketekunan menuntaskan pekerjaan.
BACA JUGA:Sumpah Pemuda dan Kisah Lain Mencari Format Bahasa Nasional
BACA JUGA:Haedar Nashir: Generasi Muda Harus Jadi Penjaga Nilai Sumpah Pemuda
Sesudah Kamera Padam
Aktivisme mahasiswa sekarang mempunyai daya jangkau luar biasa. Satu unggahan dapat menggerakkan massa, satu orasi menyebar ke jutaan layar. Namun, apakah kegelisahan yang viral masih dikerjakan setelah perhatian beralih? Siapa yang memeriksa dokumen anggaran, mendampingi warga, atau menagih janji pejabat ketika demonstrasi telah usai?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: