Panggung Jakarta

Panggung Jakarta

ILUSTRASI Panggung Jakarta-MAULANA PAMUJI GUSTI-HARIAN DISWAY-

SUNGGUH saya merasakan denyut berbeda di Jakarta. Makin mendunia dan menggairahkan. Musisi global datang bergantian. Penggemar lintas negara bertemu. Dari musik, Jakarta membangun wajahnya sebagai kota tempat dunia datang dan berjumpa.

Mal-mal di Jakarta berubah menjadi seperti di Bali. Itu bunyi unggahan yang berseliweran di Instagram beberapa hari terakhir. Itu setelah akhir pekan lalu Kanye West menggelar konser di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

Kanye West yang kini dikenal dengan Ye adalah rapper dan produser musik asal Amerika Serikat. Ia juga dikenal seabgai perancang busana yang berpengaruh besar dalam musik hip-hop dan budaya populer dunia.

Belum diketahui mengapa ia memilih Jakarta menjadi satu-satunya tempat konser di wilayah Asia Tenggara dan Oseania. Mengapa pula ia tak memilih Singapura seperti umumnya artis kelas dunia seperti selama ini?

Mestinya bukan karena Singapura sedang menghadapi masalah ekspor asap dari negeri kita. Juga, bukan karena hubungan yang sedang memanas antar kedua negara pasca-Bursa Efek Indonesia ambruk.

BACA JUGA:Pecel Administrasi: Ketika Surat Resmi Penanganan Jembatan Berakhir Jadi Bungkus Sarapan di Jakarta

BACA JUGA:Heboh Bayi-Bayi Hidup Dibuang di Jakarta: Dampak Kemiskinan?

Yang pasti, kalau biasanya orang Indonesia nonton konser musisi dunia di Singapura dan negara lain, kini ganti mereka yang datang ke Jakarta. Apalagi, secara infrastruktur, ibu kota negara –sebelum pindah IKN– itu tak kalah dengan kota besar lainnya.

Saya penggemar Genesis. Ketika punya kemampuan untuk menonton dari dekat penyanyi dambaan Phil Collin, saya harus ke Eropa. Pada 2007 Genesis dan Phil Collin menggelar konser Reunion di benua itu. Saya menontonya di Stade de France di Paris.

Stadion nasional Perancis itu penuh. Mulai tribun dan lapangan. Ada 50 ribuan penonton. Itu bagian dari tur Genesis Reunion di Eropa. Saya nonton dari tribun samping. Harga tiketnya sudah lebih dari 100 euro. Hampir Rp2 juta. Di zaman itu.

Beberapa tahun terakhir, saya memang sering wira-wiri ke ibu kota bisnis Jakarta. Sesekali juga ke Jogja. Tiga kota di Jawa menjadi persinggahan rutin belakangan ini. Surabaya, Jogjakarta, dan Jakarta. Seperti manusia nomaden sementara.

BACA JUGA:Polisi Ditabrak di Jakarta, Teori Curt Bartol

Dulu, berpuluh tahun lalu, Jakarta adalah tempat kerja keras. Bertaruh dengan kemacetan di jalan. Kalah secara infrastruktur jika dibandingkan dengan kota-kota besar di Asia Tenggara. Seperti Singapura dan Kuala Lumpur, Malaysia.

Kini situasinya berbeda. Makin banyak pilihan transportasi publik. Mau pilih MRT, LRT, Trans Jakarta, maupun KRL. Semuanya terhubung ke berbagai titik dan sudut. Macet di jalan raya bisa berpindah ke transportasi publik. Menjadi lansia warga Jakarta juga istimewa. Bisa gratis ke mana saja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: