Panggung Jakarta

Panggung Jakarta

ILUSTRASI Panggung Jakarta-MAULANA PAMUJI GUSTI-HARIAN DISWAY-

Dalam dua tahun terakhir sangat terasa perubahan di berbagai sudut kota. Yang tadinya semrawut makin terasa lengang. Seperti Jalan Rasuna Said, Kuningan. Beton-beton di tengah jalan yang dulu mengganggu kini sudang hilang. Membuat jalan makin lapang.

Sepanjang Jalan Thamrin dan Sudirman berdiri bangunan menjulang tinggi di mana-mana. Seperti berlomba menjangkau langit. Demikian pula di beberapa koya satelitnya. Seperti di sejumlah titik Jakarta Selatan, BSD, Bintaro, Tangerang Selatan.

Tentu Jakarta belum selesai dengan persoalannya. Macet masih menjadi percakapan harian. Hujan masih bisa membuat orang menghitung ulang waktu perjalanan. Jarak beberapa kilometer bisa terasa seperti perjalanan antarkota. Bergantung jam berangkatnya.

Namun, ada yang berubah dalam cara menikmati kota ini. Orang datang tidak selalu untuk mengurus pekerjaan. Bisa untuk menonton pertunjukan. Menemui kawan. Menikmati makanan. Atau, sekadar merasakan suasana kota besar yang terus bergerak.

Konser seperti membuka pintu pertemuan itu. Orang dari berbagai negara datang dengan kegemaran yang sama. Mereka mungkin tak saling mengenal. Bahasanya berbeda. Tapi, bisa menyanyikan lagu yang sama. Bersama-sama. Di Jakarta.

Sesudah pertunjukan selesai, mereka membutuhkan hotel. Mencari makan. Naik kendaraan. Berbelanja. Menambah hari untuk melihat kota. Panggung musik akhirnya ikut menghidupkan banyak panggung kecil di sekitarnya. Tempat orang lain mencari nafkah.

Di situ saya melihat kesempatan Jakarta. Menjadi tempat perjumpaan dunia. Lewat musik, olahraga, pameran, maupun berbagai pertemuan internasional. Orang punya alasan untuk datang. Lalu, membawa pulang cerita tentang kota yang dikunjunginya.

Tentu gedung tinggi saja tak cukup. Tamu juga ingin mudah berjalan kaki. Mudah mendapat kendaraan. Merasa aman ketika pulang malam. Mendapat pelayanan yang wajar. Kesan tentang sebuah kota sering justru ditentukan oleh pengalaman kecil semacam itu.

Bagi orang yang tinggal dan bekerja di dalamnya, Jakarta tetaplah gelanggang. Ada kesempatan yang menggairahkan. Ada persaingan yang melelahkan. Bertemu orang baru bisa membuka pekerjaan. Bisa juga membuat kita sadar betapa banyak orang yang lebih siap.

Saya merasakan suasana berbeda ketika kembali ke Surabaya. Kota itu seperti mengajak orang segera bekerja. Bicara seperlunya. Kalau ada persoalan, dicari jalan keluarnya. Kadang dengan suara keras. Sesudahnya bisa ngopi bersama lagi.

Di Surabaya saya belajar banyak tentang kerja. Tentang menepati janji. Tentang menghadapi orang dengan beragam watak. Juga, tentang menerima teguran yang disampaikan tanpa bungkus kata-kata. Langsung. Kadang pedas. Tapi, jelas maksudnya.

Kota ini memberikan ruang untuk belajar melakukan sesuatu sampai bisa. Orang dinilai dari pekerjaannya. Dari kesediaannya turun tangan. Dari hasil yang bisa dilihat. Bagi saya, itu bekal penting sebelum memasuki gelanggang yang lebih luas.

Jogja memberikan rasa yang lain lagi. Begitu tiba, rasanya ingin menurunkan kecepatan. Duduk lebih lama. Menghabiskan kopi tanpa berkali-kali melihat jam. Percakapan bisa berjalan ke mana-mana. Tak harus segera menghasilkan keputusan.

Di sana saya merasa punya waktu untuk menikmati hal sederhana. Makanan. Pertemuan. Jalan yang menyimpan kenangan. Juga, diam yang tak terasa mengganggu. Barangkali itulah yang sekarang disebut slow living. Hidup selow. Tidak terus-menerus dikejar urusan.

Tentu orang Jogja juga bekerja keras. Orang Surabaya juga bisa bersantai. Orang Jakarta juga membutuhkan ketenangan. Saya hanya sedang menceritakan rasa yang muncul setiap kali singgah di tiga kota itu. Dari pengalaman sendiri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: