Tingkatkan Akurasi Data Bencana, BNPB Rangkul 35 Jurnalis Jawa Timur
Materi diskusi mengenai jurnalis tangguh bencana dalam kegiatan BNPB Kamis 29 Oktober 2026 di Surabaya-BNPB-
SURABAYA, HARIAN DISWAY- Sebanyak 35 jurnalis dari berbagai organisasi profesi di Jawa Timur mengikuti lokakarya khusus kebencanaan yang digelar oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Surabaya.
Berlangsung selama dua hari pada 28–29 Oktober 2026, puluhan awak media digembleng untuk menjadi garda depan edukasi dan mitigasi bencana.
Dalam pelatihan yang didukung penuh oleh Pemerintah Australia melalui program Siap Siaga dan berkolaborasi dengan BPBD Provinsi Jatim ini, para peserta dibekali berbagai materi krusial. Mulai dari membedah fenomena hidrometeorologi dan geologi, memahami alur sistem komando darurat, hingga mengasah kepekaan jurnalisme bencana.
Meski dituntut sigap menyampaikan informasi di lapangan, ke-35 jurnalis tersebut diingatkan kembali pada satu prinsip mutlak yang sering terlupakan: keselamatan diri.
BACA JUGA:Karhutla Jatim Meluas hingga 11.449 Hektare, BNPB Kirim Helikopter Water Bombing dan Pesawat OMC
BACA JUGA:Karhutla Jadi Ujian Perdana Nakhoda Baru BNPB, Tak Boleh Lamban Lagi
BNPB menegaskan kembali mantra wajib bagi setiap peliput bencana, yakni “Tidak ada berita yang senilai nyawa.” Di wilayah berisiko tinggi, keselamatan pewarta tetap menjadi prioritas nomor satu.
Team Leader Siap Siaga Lucy Dickinson menekankan, media memegang peran strategis sebagai jembatan informasi. Antara pemerintah, lembaga kebencanaan, dan masyarakat."Jurnalisme kebencanaan bukan sekadar peliputan peristiwa. Jurnalisme kebencanaan adalah bagian dari upaya pengurangan risiko bencana," ujarnya.
Melalui pemberitaan yang tepat, media diharapkan mampu meningkatkan literasi kebencanaan, mendorong perubahan perilaku, hingga membantu menyelamatkan nyawa saat krisis.
Selain aspek teknis peliputan, rangkaian acara bagi 35 peserta ini juga menyentuh sisi humanis dan keselamatan psikologis. Di hari kedua, materi bergeser pada dukungan kesehatan mental dan psikososial bagi penyintas maupun jurnalis itu sendiri, serta prosedur keamanan di area bencana.
Guna mempertajam keahlian para jurnalis, BNPB menghadirkan barisan narasumber kompeten. Mulai dari pakar Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BMKG, BPBD, Palang Merah Indonesia (PMI), hingga jurnalis senior dari harian Kompas dan LKBN Antara.
Melalui kegiatan ini, BNPB berharap ke-35 jurnalis yang hadir dapat menjadi cikal bakal terbentuknya forum komunikasi permanen antara BNPB, BPBD, dan media. Sinergi ini diyakini bakal membuat arus informasi kebencanaan di Jawa Timur mengalir lebih cepat, akurat, dan berdampak nyata bagi edukasi publik.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan, pelatihan ini menjadi penting bagi jurnalis untuk menggambarkan peristiwa kebencanaan. Khususnya dalam menyampaikan data secara akurat dan dapat dipercaya saya terjadinya bencana. ”Termasuk memberikan informasi bagaimana dan tindakan apa yang bisa dilakukan masyarakat saat terjadi bencana maupun aman dari ancaman,” katanya.
Berton menyebut, berdasarkan data, Indonesia menjadi negara kedua di dunia setelah Filipina dengan bencana tertinggi. Melihat kondisi tersebut, perlu ada upaya kolaborasi antar semua pihak untuk mengabarkan peristiwa secara berimbang dan berdampak secara luas, khususnya bagi penyintas untuk bangkit pasca bencana terjadi. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: