Saatnya Desa Naik Kelas, Tidak Sekadar Naik Status

Saatnya Desa Naik Kelas, Tidak Sekadar Naik Status

ILUSTRASI Saatnya Desa Naik Kelas, Tidak Sekadar Naik Status.-MAULANA PAMUJI GUSTI-HARIAN DISWAY-

Kehadiran Koperasi Desa Merah Putih dapat menjadi momentum strategis untuk mempercepat transformasi ekonomi perdesaan.

Secara konseptual, koperasi memiliki posisi penting dalam ekonomi Pancasila karena mengedepankan kerja sama, partisipasi masyarakat, dan pemerataan manfaat ekonomi.

Koperasi dapat menjadi penghubung antara produsen lokal dengan pasar yang lebih luas, memperbaiki rantai distribusi, sekaligus memperkuat posisi tawar masyarakat desa.

Namun, keberhasilan koperasi tidak cukup ditentukan oleh kecepatan pembentukan kelembagaan maupun penyediaan fasilitas fisik.

Tantangan terbesarnya justru terletak pada kesiapan pengelola, kelayakan model bisnis, kemampuan mengelola keuangan, dan keberadaan pasar.

Pengalaman pengembangan BUMDes selama ini memberikan pembelajaran berharga. Sejumlah BUMDes mampu tumbuh menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Namun, sebagian lainnya masih menghadapi keterbatasan kapasitas manajemen dan keberlanjutan usaha.

Pelajaran tersebut seharusnya menjadi modal untuk memperkuat desain pengembangan koperasi, bukan alasan untuk meragukan potensinya.

Dalam perspektif dynamic capabilities, keberhasilan organisasi ditentukan oleh kemampuannya mengidentifikasi peluang, memanfaatkan sumber daya, dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan.

Karena itu, pembangunan koperasi perlu diikuti pembangunan kapabilitas bisnis.

Koperasi yang sudah memiliki basis produksi dan pasar dapat diarahkan menuju pengembangan usaha. Sementara itu, koperasi di desa dengan kapasitas ekonomi terbatas perlu memperoleh inkubasi, pendampingan profesional, dan penguatan tata kelola sebelum memasuki pembiayaan usaha yang lebih kompleks.

Pendekatan tersebut memungkinkan koperasi tumbuh sebagai organisasi ekonomi yang sehat, bukan sekadar lembaga yang berhasil dibentuk.

Dari Keseragaman Program ke Diferensiasi Strategi

Indonesia memerlukan cara baru dalam mengelola pembangunan lebih dari 75 ribu desa.

Dalam manajemen strategis, organisasi dengan karakteristik berbeda membutuhkan intervensi yang sesuai dengan tingkat kemampuannya. Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam pembangunan desa.

Setidaknya terdapat tiga pendekatan yang dapat dikembangkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: