IWD Surabaya 2026: Savy Amira dan KGSK Ubaya Bahas Realita Gender bersama Saskia E. Wieringa
Saskia E.Wieringa profesor studi perempuan dan gender peringati perayaan International Women's Day 2026 dengan bedah buku LBT di Fakultas Psikologi Ubaya, Minggu, 8 Maret 2026.-Rosyidah Ariyanti-Harian Disway
SURABAYA, HARIAN DISWAY - International Women’s Day (IWD) 2026 mengangkat tema global Give to Gain atau Memberi untuk Mendapatkan. Kekuatan kolaborasi, kemurahan hati, dan investasi sosial untuk menciptakan kesetaraan gender menjadi sorotan utama.
Bagi Savy Amira dan Kelompok Studi Gender dan Kesehatan Fakultas Psikologi (KSGK) Universitas Surabaya (Ubaya), identitas gender lebih kompleks dari laki-laki dan perempuan. Ada minoritas LBT atau lesbian, biseksual, dan trans.
Dalam kaitan itu, mereka mengundang Saskia E. Wieringa dalam bedah buku karyanya, Lesbian, Biseksual, dan Trans: Riwayat Gerakan Politik Indonesia. Buku itu juga terbit dalam Bahasa Inggris dengan judul A Political Biography of the Indonesian Lesbian, Bisexual and Trans Movement.
Diskusi berlangsung di Ruang Serba Guna, Fakultas Psikologi Ubaya, pada Minggu, 8 Maret 2026. Sekitar 99 orang berpartisipasi. Termasuk, perwakilan Gusdurian, Perwakos, dan Koalisi Masyarakat Sipil Surabaya.
BACA JUGA:Mengurai Teror dan Perusakan Kantor Savy Amira WCC di Surabaya: Pendamping Juga Harus Dilindungi
BACA JUGA:Seminar Love is No Abuse, Cegah Kekerasan dalam Hubungan dan Tegakkan Kesetaraan Gender

SASKIA E. WIERINGA, akademisi perempuan dan gender, hadir dalam bedah buku di Universitas Surabaya pada Minggu, 8 Maret 2026. Event itu juga bagian dari peringatan International Women's Day (IWD). -Rosyidah Ariyanti-Harian Disway
Dalam bukunya, Saskia mengulas sisi historis politik Indonesia yang jarang disentuh orang. Profesor yang secara khusus mendedikasikan dirinya pada gerakan perempuan, politik seksual, indikator gender, dan hubungan sesama jenis itu membahas ketabuan seksualitas.
"Ketabuan seksualitas dalam sosial masyarakat Indonesia adalah hasil impor barat," ucapnya dalam diskusi yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB tersebut.
Menurut pakar kelahiran Belanda itu, sebelum kolonialisme masuk, Indonesia menerima secara terbuka kaum LBT. Itu bisa dilihat pada budaya dan tradisi turun temurun dalam masyarakat Suku Dayak, Ponorogo, dan Bugis.
Misalnya, sebutan Iban dan Ngaju untuk dukun Dayak. Atau, Ponorogo dengan kisah legendaris Reog Ponorogo yang lekat dengan kehidupan tak biasa warok dan gemblak.
BACA JUGA:Mengenal Toilet Gender Netral, Disebut Bisa Mencegah Pelecehan Seksual Non Biner
BACA JUGA:Sensitivitas Gender dalam Program Dukungan Psikososial terhadap Korban Bencana
Dalam budaya Bugis lebih jelas kehadiran kaum liyan yang secara khusus mereka anggap punya kelebihan secara spiritual. Kehadiran bissu membuktikan bahwa masyarakat Bugis sejak lama mengenal lebih dari dua gender.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: