SBY turun tangan langsung. Ia memimpin rombongan Demokrat untuk bertemu Surya Paloh. Bertamu ke markas Nasdem.
Sudah bisa ditebak. Jelas itu manuver di tengah permainan catur membangun koalisi pilpres. Demokrat harus gesit agar tak ketinggalan kereta. Di P ilpres 2019, Demokrat dan PAN tersisa di tengah setelah terbangun dua koalisi. Saat itu sudah terbentuk koalisi besar yang dimotori PDIP yang mengusung Jokowi. Sedangkan Gerindra dan PKS mengusung Prabowo-Sandi. Demokrat dan PAN yang tak cukup syarat mem bangun grup sendiri tak bisa mengusung jagonya. Akhirnya ikut kubu Prabowo. Sejatinya peta saat ini tetap ruwet. Bisa dibilang makin ruwet. Memang sih koalisi itu cair, katanya. Tapi , tetap ada kendalanya, terutama partai yang pasang harga mati harus dapat jatah capres atau cawapres. Juga, hubungan partai seperti minyak dan air, akan sulit bertemu. A d akah yang bakal ketinggalan kereta kali ini? Munculnya Koalisi Indonesia Bersatu (KIB): Golkar, PAN, dan PPP lan g sung membuat ramai jagat pilpres. Mereka (kalau tetap langgeng) sudah pegang tiket. Sudah melampaui syarat 20 persen itu. Lahirnya KIB itu memancing elite parpol lain kasak - kusuk, saling mengunjungi menjajal koalisi. Ada yang menyebut KIB sekoci buat calon yang diinginkan Jokowi. Kalau Jokowi punya jago sendiri yang berbeda dengan PDIP, lewat s e koci i tu lah dilarungkan. Indikasi ke arah itu makin kuat setelah hadirnya Luhut Pan d jaitan dan Ketua Projo (relawan Jokowi) di acara mereka. Bahkan , beredar kabar bakal ada kudeta di Golkar untuk memuluskan koalisi sekoci. Dinamika terbaru koalisi itu membantah sebagai sekoci. Ketum Golkar Airlangga Hartarto menegaskan akan mengusung kader partai anggota koalisi untuk pos capres. Artinya , bukan untuk Ganjar Pranowo dan Erick Tohir yang kini sedang menebar pesona itu. Di sisi lain, di beberapa survei kredibel, elektoral Ganjar atau Ketum PAN Zulkifli Hasan tidak kunjung naik. PDIP –s atu-satunya parpol yang sudah pegang tiket – t ak perlu koalisi. Gelagatnya , mereka bakal mendorong Puan Maharani, putri mahkota. Kendalanya elektoral juga, belum tembus tiga besar. Kader lain, Ganjar Pranowo, elektoral mendukung, tapi ” jauh ” dari markas PDIP. Be be rapa acara PDIP di Jateng,tak mengundang Ganjar yang notabene gubernur. Katakanlah, PDIP tetap mengusung Puan, di butuh kan partner kuat. Prabowo atau Anies Baswedan. Prabowo sudah wira-wiri ketemu Megawati, ibunya Puan. Apakah akan muncul Prabowo-Puan? Mungkin saja. Duet Anies-Puan juga mulai terdengar. B elum ada p ara elite PDIP yang memberi kan reaksi negatif. Beredar kabar sudah ada operasi yang mendekatkan Puan dan Anies. Apalagi , Anies dan Puan tampil bersahabat saat Formula E. Tapi , bila itu terjadi, tak bisa dibayangkan di akar rumput. Kita ta h u , banyak pendukung Anies dari kelompok Islam yang sering berseberangan pandangan dengan massa PDIP. Posisi Nasdem menarik diulas. Surya Paloh seperti menjadi kunci penentu. SBY, Prabowo , dan Airlangga yang menemuinya. Apa daya tariknya? Kini Nasdem menjadi partai tengah yang bisa ke mana-mana setelah partai tengah lain seperti Golkar dan PAN sudah punya koalisi sendiri. Nasdem juga punya kedekatan historis dengan Anies Baswedan. Seperti diketahui, Anies salah seorang deklarator Ormas Nasdem sebelum lahirnya parpol Nasdem. Surya Paloh pun sudah memberi kan isyarat Anies termasuk kandidatnya. Ketum Projo Budi Arie malah menyebut Surya P aloh sudah mengajukan duet Ganjar-Anies ke Presiden Jokowi. Belum apa-apa, langsung muncul pro - kontra di medsos. Banyak pendukung keduanya yang tak setuju. Surya Paloh sendiri tak banyak komentar dengan ”b ocoran ” itu. Setelah ada kabar pertemuan Jokowi - Paloh itu , SBY merapat ke markas Nasdem. Memunculkan spekulasi menggodok koalisi Nasdem-Demokrat-PKS. Koalisi itu pun bakal mengusung Anies-AHY. Demokrat-PKS, yang selama bersikap oposisi dengan Jokowi, belum cukup mem bangun koalisi sendiri. Butuh satu partai lagi. Sekutu dekat mereka , PAN , sudah punya koalisi sendiri. Demokrat-PKS sudah pasti sulit ikut gerbong PDIP. Ibaratnya , PKS di kanan luar, PDIP kiri luar. Demokrat juga sulit merapat ke PDIP, hubungan SBY dan Mega juga belum cair. Demokrat-PKS bisa cocok dengan Gerindra. Tentu , pos capres milik Prabowo, siapa cawapres? AHY, Sandy atau Anies. Apakah Demokrat siap kalau AHY tidak cawapres. Sementara , PKS sangat dekat dengan Anies. Koalisi itu fifty-fifty karena Prabowo juga dekat dengan PDIP. Bagaimana dengan PKB. Partai itu pasang harga Ketum Muhaimin Iskandar harus capres. PKB siap bergabung dengan KIB, pasang syarat: Muhaimin sebagai capres. Tentu tidak ketemu dengan keinginan Golkar. Andaikan dengan Gerindra, rasionalnya Gerindra capres karena kursiya lebih banyak. Kalau hanya berdua, PKB- Nasdem, belum cukup. PKB dengan PDIP, Puan-Muhaimin atau dibalik, koalisi memungkinkan karena histori kedekatan PDIP d an PK B . Tapi , elektoral survei kedu a calon masih rendah. Lain halnya bila didukung total oleh NU, pasangan itu akan kuat. Sayang, hubungan PKB dan NU sedang tidak biasa-biasa saja. PKB-Demokrat-PKS? PKB dan Demokrat sudah punya pengalaman. Yang perlu persamaan visi PKB dan PKS. Siapa capresnya? Anies atau Muhaimin? Yang juga perlu diantisipasi oleh Demokrat dan PKS adalah bila pendukung pemerintah sekarang membentuk satu koalisi atau dua koalisi. Katakanlah, muncul kubu sekoci KIB plus Nasdem dan koalisi PDIP, Gerindra , dan PKB. Bila itu terjadi, Demokrat dan PKS bisa tertinggal kereta karena keduanya belum cukup untuk satu tiket. Karena itu , sangat - sangat relevan, keduanya menjaga kedekatan dengan Nasdem. Pilihan paling strategis, baik secara ideologi maupun paket Anies Baswedan. PKB juga bisa terlena bila tetap pasang harga mati menyodorkan ketu a umu mnya sebagai capres atau cawapres. Bila tidak elastis, juga bisa ketinggalan kereta. (*)Awas, Ketinggalan Kereta!
Kamis 09-06-2022,05:00 WIB
Reporter : M. Taufik Lamade
Editor : Yusuf Ridho
Tags : #sby
#puan maharani
#prabowo subianto
#ppp
#pks
#pkb
#pdip
#partai demokrat
#pan
#nasdem
#megawati soekarnoputri
#koalisi indonesia bersatu
#kib
#golkar
#gerindra
#ganjar pranowo
#anies baswedan
Kategori :
Terkait
Sabtu 07-02-2026,11:35 WIB
Gibran Respons Wacana Pencalonan Prabowo-Zulhas di Pilpres 2029
Rabu 28-01-2026,12:58 WIB
Isu Reshuffle Kabinet Menguat, Golkar Pasrah ke Prabowo, PDIP Pilih Fokus Program Internal
Senin 26-01-2026,21:34 WIB
Thomas Djiwandono Resmi Terpilih Sebagai Deputi Gubernur BI, DPR: Karena Bisa Diterima Semua Parpol
Jumat 09-01-2026,23:04 WIB
Haryadi Soroti Munculnya Gejala 'Partai Kartel' Terkait Wacana Pilkada Lewat DPRD
Sabtu 03-01-2026,10:01 WIB
SBY Pertimbangkan Langkah Hukum soal Isu Ijazah Palsu Jokowi
Terpopuler
Selasa 17-03-2026,13:13 WIB
Prediksi Skor Arsenal vs Leverkusen: Update Kondisi, Head to Head, dan Perkiraan Line Up
Selasa 17-03-2026,10:59 WIB
Prediksi Skor Man City vs Real Madrid: Update Kondisi, Head to Head, dan Perkiraan Line Up
Selasa 17-03-2026,11:18 WIB
Prediksi Skor Chelsea vs PSG: Update Kondisi, Head to Head, dan Perkiraan Line Up
Selasa 17-03-2026,06:40 WIB
Lebaran 2026 Diprediksi Dirayakan Serentak Berdasarkan Analisis Posisi Elongasi Bulan
Selasa 17-03-2026,14:00 WIB
Daftar Pemain Danur: The Last Chapter, Prilly Latuconsina Comeback Ditemani Zee Asadel
Terkini
Selasa 17-03-2026,22:12 WIB
Pertamina Pastikan Stok BBM dan LPG Aman Selama Mudik 2026, Siapkan Ribuan SPBU dan Agen Siaga
Selasa 17-03-2026,20:27 WIB
Diklaim Israel Tewas, Ali Larijani
Selasa 17-03-2026,19:42 WIB
7 Pemeran Tunggu Aku Sukses Nanti, Ardit Erwandha vs Si Julid Sarah Sechan
Selasa 17-03-2026,19:03 WIB
Sinopsis Film Tunggu Aku Sukses Nanti, Ketika Pertanyaan Klasik Lebaran Jadi Tekanan
Selasa 17-03-2026,18:35 WIB