Review Film Barbarian: Orang Barbar dari Barbarian

Minggu 06-11-2022,07:00 WIB
Editor : Retna christa

Oleh:
Wimpie,
karyawan swasta,
member Group Hobby Nonton

FILM BARBARIAN sempat trending di AS September lalu. Ternyata, ini jadi film yang harus kami rekomendasikan untuk semua moviegoer. Premisnya original, plot dan gaya penceritaanya unik. Yang paling menarik adalah apa arti sesungguhnya dari film horor ini. Jangan khawatir. Kami akan menceritakannya tanpa spoiler.

Trailer film Barbarian memberi gambaran tentang kebingungan Tess (Georgina Campbell). Ketika rumah yang dia sewa secara online ternyata telah disewa juga oleh Keith (Bill Skargard) melalui aplikasi online lain. Karena situasi, Tess akhirnya menerima tawaran Keith untuk berbagi ruangan. Tanpa mereka sadari, ada yang telah tinggal lama di rumah itu. Siap menebar teror.

Film ini begitu misterius dan sangat menegangkan. Sebaiknya Anda benar-benar tak tahu apa-apa sebelum menonton film ini, kecuali trailer-nya. Jika kalian sangat penasaran, berhenti membaca review ini sekarang. Dan langsung saja menontonnya di Disney+. Setelah itu balik lagi kemari, dan silakan lanjutkan membaca.

Bar bar bubar!

Judulnya misterius, sampai film habis juga saya masih mikir, barbar dari sisi mana? Kalau film jadul tentang kanibalisme itu jelas banget, judul dan posternya. Barbarian malah seperti film supernatural ala Stephen King dan Brian De Palma.

Bahkan, sampai hari ini, lima hari sesudah menonton, siapa yang mencantumkan rumah itu di aplikasi online juga tidak bisa dipahami. Asem!

Oh ya, sebelum membahas lebih lanjut, awas. Film ini mengandung adegan gore dan ketelanjangan. Film ini hanya untuk orang dewasa.

Barbarian agak anakronistik dalam bentuk tertentu. Seperti soal aplikasi online itu. Lalu area di sekitar tempat kejadian perkara yang seperti kisah mistis ala Asia. Yang seseorang bisa tersesat dan baru sadar saat sudah pagi ternyata dia ada di kuburan. Padahal saat malam, orang itu seperti menempuh jalan di kota yang ramai dan bersih.

Lebih dalam lagi, saat mencapai klimaks dan akhir cerita, saya tidak bisa menahan tertawa. Absurditas yang ditampilkan terasa otentik, segar, dan sangat menggelikan. Untungnya akhir cerita tidak disudahi dengan Deus Ex Machina.

Plot hole tetap ada. Karena kemungkinan editing di beberapa bagian agak dipaksakan untuk penonton merasakan kecemasan yang dialami karakter utama.

Gilanya lagi, si sutradara seakan-akan membuat omnibus. Tetapi titik masuk karakter utama kedua begitu mulus dan langsung terikat dengan cerita sebelumnya. Saya kira ini ide gila sutradara. Apalagi, Justin Long sering sekali berperan dalam film serupa dan bernasib sama.

Saya suka saat karakter utama perempuan memutus pembicaraan. Manakala ada seseorang yang ingin menjelaskan lokasi penginapan online itu adalah... Hehe... penasaran, kan?

Barbar bubar bukanlah frasa tentang sifat seseorang. Tapi frasa yang umum dalam bahasa Jawa untuk mengingatkan bahwa sebuah masa sudah berakhir. Barbarian ingin menyudahi kompleksitas sebuah film horor thriller yang pelik dan menyuguhkan film sederhana yang tak disangka malah lucu.

Kalau Scott Derickson lewat Black Phone menyuguhkan cerita yang alurnya linier, demikian pula Barbarian. Namun, plot linier bukanlah kelemahan. Justru kekuatan kisahnya ditopang penuh oleh hal-hal yang tak terpikirkan sutradara lain. (*)

Kategori :