Tanggul Jebol, Sawah Gagal Panen

Kamis 23-02-2023,05:00 WIB
Reporter : Michael Fredy Yacob
Editor : Noor Arief Prasetyo

SURABAYA, HARIAN DISWAY- CURAH hujan yang tinggi masih terus mengguyur Jawa Timur. Beberapa daerah di provinsi itu pun merasakan dampaknya. Mulai tanggul yang jebol karena tidak sanggup lagi menerima debit air hingga persawahan siap panen yang terendam banjir.

Itu, antara lain, terjadi di tanggul Mojosarirejo, Gresik. Rabu dini hari, 22 Februari 2023, tanggul tersebut jebol. Tidak lagi sanggup menahan tekanan air yang mengalir di Sungai Mojosarirejo menuju Sungai Avur.

Debit air itu naik akibat curah hujan yang terjadi sejak 21 Februari 2023 pukul 18.30. Dari bencana alam itu, tercatat empat desa di Kecamatan Driyorejo terendam air. Yakni, Sumput, Mojosarirejo, Karangandong, dan Driyorejo.

Mendengar kondisi itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa langsung mendatangi lokasi tersebut. Sekitar pukul 12.00, dia dan rombongan sampai di titik jebolnya tanggul. Yaitu, Perumahan De Naila Village Blok G dan Blok E.

Di lokasi itu, setidaknya ada 66 kepala keluarga (KK) yang terdampak langsung. Mereka semua langsung dievakuasi ke club house Perumahan De Naila Village. Namun, ada sebagian yang masih bertahan di rumah mereka.

Menurut Khofifah, kejadian itu memiliki kaitan dengan sistem irigasi secara regional. Mantan menteri sosial itu pun meminta kepala dinas pekerjaan umum sumber daya air (PU SDA) untuk berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas dan BBWS Bengawan Solo.

”Hari ini memang kita melihat ada dua tanggul yang jebol. Karena intensitas air hujan melebihi kapasitas. Tapi, hal ini juga harus dicek ulang dari kapasitas tanggulnya, kualitas dan kekokohan tanggulnya, serta penampungannya. Juga, sumber aliran luapan air harus ada asesmen baru supaya lebih komprehensif,” katanyi.

Melihat intensitas hujan yang cukup tinggi hampir di seluruh Indonesia, termasuk Jawa Timur, Khofifah meminta pihak terkait untuk melakukan pengecekan kembali. Tentu terhadap kapasitas tanggul yang ada di masing-masing titik. 

”Memang sudah harus dilakukan asesmen kembali. Supaya proses untuk bisa melakukan proteksi dan mitigasi itu semua bisa lebih terukur dan lebih baik,” tegasnyi.

Camat Driyorejo Narto menambahkan, banjir di wilayah Perumahan De Naila Village merupakan kiriman dari tiga titik. ”Di sini titiknya rendah. Maka, aliran air mengalirnya ke sini,” ucapnya.

Narto mengaku telah mengusulkan untuk dibuat sodetan di wilayah Desa Cangkir. ”Cuma 2 km. Tapi, biayanya terlalu tinggi. Untuk Kali Avur, butuh normalisasi sekitar 7 km. Menghabiskan anggaran sekitar Rp 950 juta. Itu sudah bagus,” katanya.

Ia juga telah mengusulkan agar jembatan penghubung yang melintasi aliran Kali Avur ditinggikan. Tujuannya, alirannya kembali berfungsi secara normal. Kalaupun ada genangan, mungkin itu terjadi hanya lewat, tidak sampai meninggi.

BUkan hanya permukiman warga. Persawahan siap panen pun tak lepas dari terjangan banjir. Setidaknya 2.698 hektare sawah di Jatim terendam banjir. Namun, sawah yang dinyatakan puso (gagal panen) sebanyak 186 hektare. Jika 1 hektare menghasilkan 6 ton beras, ada 1.116 ton beras yang hilang pada masa panen ini.

Kepala Dinas Pertanian Dydik Rudy Prasetya menjelaskan, sawah dinyatakan puso bila tanaman padinya terendam air setinggi 100 persen. Kondisi itu terjadi selama tiga hari berturut-turut.

”Kalau air merendam 50 persen dari tinggi tanaman, itu masih bisa diselamatkan. Tapi, jumlah sawah yang gagal panen ini kecil. Tidak memengaruhi stok ketersediaan pangan di Jatim. Satu juta ton beras di panen raya nanti masih relevan,” ungkapnya.

Kategori :