Pesona Nathan Philips Square dan Humber Bay Arch Bridge di Toronto, Kanada

Senin 18-03-2024,20:19 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Heti Palestina Yunani

KANADA, HARIAN DISWAY - Dasar sepatu ski yang tajam menginjak lapisan es di Nathan Phillips Square. Licin. Cukup susah. Tapi aku mulai terbiasa.

Ayah memegangku. menuntun aku berjalan. Ketika kecepatanku sedikit meninggi, ayah tiba-tiba melepasku. Jadilah aku meluncur seorang diri.

Ayah tahu aku sudah bisa berhenti dengan sedikit mengangkat tumit, lalu menjejak, kemudian sedikit merapatkan kaki.

BACA JUGA: Nikmati Senja Jingga di Pantai Lorena Lamongan


Pesona Nathan Philips Square dan Humber Bay Arch Bridge di Toronto, Kanada. Asyiknya bermain ski bersama ayah di Nathan Philips Square, Toronto, Kanada.-Wisnu Aji Setyo Wicaksono-Harian Disway

Teriakanku jadi bagian dari ekspresi kegembiraan banyak orang di Nathan Phillips Square, Toronto, Kanada. Di situ ada spot khusus untuk ski. Dilingkari dengan dinding yang berukuran sekitar 500 cm.

Pilar-pilar besi serta dekorasi bagian atap yang melengkung di beberapa bagian. Lengkap dengan lampu-lampu hias berwarna-warni.

Latarnya adalah gedung-gedung tinggi. Kami bermain ski di ruang terbuka. Toronto, salah satu kota besar di Kanada itu tak pernah mati. Siang-malam menyajikan pesona khas metropolitan. Terutama saat salju begini.

Malam hari, orang-orang memilih pergi bermain ski, mencari hiburan dengan melihat opera-opera, konser musik, atau menghangatkan tubuh dengan pergi ke restoran.

Kata ayah, sebenarnya Februari lalu adalah puncak musim salju. Pada Maret, Kanada akan memasuki musim semi. Tapi tahun-tahun belakangan ini cuaca tak menentu. Kadang musim semi baru datang April, bahkan Mei.

BACA JUGA: Naik-Naik ke Puncak Gunung Wank, Jerman


Pesona Nathan Philips Square dan Humber Bay Arch Bridge di Toronto, Kanada. Di tepi Sungai Humber. Sungai yang berada di bawah Humber Bay Arch Bridge.-Wisnu Aji Setyo Wicaksono-Harian Disway

Suhunya pada malam hari mencapai minus 18 derajat. Masih belum minus puluhan. Kalau minusnya sampai 20 ke atas, tentu akan luar biasa dingin.

Jadi selama musim dingin di Kanada, kami mengenakan pakaian rangkap sekaligus jaket tebal. Jangan lupa penutup kepala.

Awalnya, bagi yang tak terbiasa, terutama saat pertama aku ke Kanada, badanku menggigil. Meski sudah mengenakan pakaian dobel-dobel. Tapi kalau sudah terbiasa, badan pun akan beradaptasi.

Beberapa tempat di Kanada sudah kukunjungi. Semua menarik. Lingkungan bersih, rapi dan warganya taat aturan. Disiplin pula.

Bulan ini, selain mengunjungi Nathan Philips Square, hari sebelumnya, aku bersama ayah-ibu mengunjungi Humber Bay Arch Bridge. Sebuah jembatan di yang melintasi Sungai Humber di Queen Street West, Toronto.


Pesona Nathan Philips Square dan Humber Bay Arch Bridge di Toronto, Kanada. Ayah dan ibu berpose di tepi Sungai Humber, dengan latar Humber Bay Arch Bridge di Toronto, Kanada.-Wisnu Aji Setyo Wicaksono-Harian Disway

Queen Street adalah jalan yang menghubungkan antara barat dan timur Toronto. Jembatan itu ada di barat. Di bawahnya, Sungai Humber adalah sungai yang selalu ramai jika musim panas.

Ayah yang bertahun-tahun tinggal di Kanada, selalu datang ke Hamber Bay Arch Bridge ketika summer. Jadi ia sudah terlalu sering berkunjung. Sedangkan bagi saya dan ibu, kunjungan ini adalah pertama kalinya.

BACA JUGA:Temukan Nuansa Eropa dengan Berkunjung ke Dusun Semilir di Kota Lumpia

Saat musim panas, banyak orang berolahraga mendayung dengan kano. Mereka beraktivitas di Sungai Humber, di sisi timur jembatan.

Pemerintah setempat melarang wisatawan untuk melintas jembatan. Sebab, sungai setelah jembatan sangat dalam. Apalagi jalurnya menuju laut lepas. Yakni Samudera Atlantik.

"Di sisi jembatan itu selalu ada petugas safety guard yang menggunakan speed boat. Kalau ada yang bandel, mereka berteriak melalui speaker: turn around! turn around!," kata ayah, sembari menunjuk sisi jembatan itu.

Tapi sisi terlarang itu sebenarnya masih boleh dilalui Asalkan menggunakan speed boat atau kano yang berukuran besar. Bagi kano-kano kecil, akan dihalau jika melewati sisi itu.

Kami bertiga tak melewatkan kesempatan untuk bersantai. Duduk di bangku-bangku pinggir sungai, menikmati aliran air sekaligus latar perkotaan Toronto yang megah.

Langit musim salju kelabu memberi celah bagi cahaya matahari. Menerangi batuan-batuan tepi sungai, serta gumpalan-gumpalan es di lantai yang tak kunjung mencair.

Tapi di Toronto, suhunya tak begitu ekstrim. Paling ekstrim, kata ayah, adalah di Ottawa. Di sana suhunya bisa mencapai minus 30 derajat Celcius.

BACA JUGA: Serunya Menelusuri Elbow Falls hingga Kananaskis di Kanada


Pesona Nathan Philips Square dan Humber Bay Arch Bridge di Toronto, Kanada. Duduk di atas batu, di tepi Sungai Humber dengan latar Humber Bay Arch Bridge.-Wisnu Aji Setyo Wicaksono-Harian Disway

Tak bisa dibayangkan seperti apa rasanya. Mungkin orang akan lebih memilih berdiam di rumah sepanjang musim sembari menghangatkan tubuh.

Kami bertiga berjalan ke lokasi jembatan. Berada di tengah, sembari menikmati embusan angin yang semilir yang sangat dingin.

Kulepas penutup kepala untuk membiarkan sentuhan udara membelai tiap helai rambutku. Humber Arc Bridge cukup dekat dengan Exhibition Stadium. Itu lho, stadion rugby dan baseball termegah di Toronto.

Pun, kami berfoto sekeluarga. Setelah itu aku memilih menikmati tiap pilar jembatan yang super keren itu. Ayah dan ibu juga begitu. Mereka tampak mesra.

Jalinan cinta di antara keduanya terjadi sejak ayah dan ibu menjadi penari Ramayana di Prambanan. Hingga saat ini romantisme itu masih terjaga.

Ayah dan ibu berfoto selfie sembari mendekapkan pipi. Dih, mereka pacaran lagi. Kuambil segenggam salju, membentuknya menjadi bola. Kulempar ke punggung ayah dan ibu.

Mereka menoleh, tertawa, kemudian ikut mengambil salju. Lalu jadilah kami sekeluarga bermain lempar salju. Yup, begitulah kebahagiaan keluarga kecilku. (Gangga Justicia Ramadhani)

Kategori :