TITD Tay Kak Sie Semarang (2): Sejarah Wabah Malaria

Minggu 31-03-2024,11:00 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Heti Palestina Yunani

HARIAN DISWAY - Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Tay Kak Sie di Semarang ini unik dan bersejarah. Ada dua agenda tahunan yakni kirab. Kirab pertama adalah arak-arakan rupang Dewi Kwan Im. Kedua, terkait dewa pengobatan Poo Seng Tay Tee.

Di dalam TITD atau kelenteng terdapat bagian tengah ruangan yang terbuka. Mencerminkan filosofi sumur langit atau tianjing. Atap bangunan utama berbentuk seperti juntai ekor walet. Ciri khas arsitektur Minnan, Tiongkok.

Peruntukkan bangunan dengan pola seperti itu hanya digunakan untuk rumah pejabat, kekaisaran, atau tempat ibadah.

Halaman depan TITD yang luas tentu menggambarkan betapa ramainya suasana di sana. Baik pada masa silam hingga sekarang. Apalagi dengan berbagai agenda yang kerap dilakukan oleh para pengurus TITD serta para umat.

Andre, Kepala Operasional TITD mengajak Harian Disway ke sisi kanan ruangan. Di situ terdapat ruang kantor serta beberapa altar. Sebagian terbuka atau tanpa atap. Terdapat altar dewa-dewi Buddha, Konghucu, dan Taoisme.

BACA JUGA: TITD Tay Kak Sie Semarang (1): Tertua Ketiga di Semarang, Dulu Bernama Kwan Im Ting

Satu altar dengan hio lo cukup besar. Berbagai sesaji tersaji di meja altar tersebut. Terdapat papan nama bertuliskan Poo Seng Tay Tee.

Rupang seorang sepuh berjanggut, berwajah teduh, bermahkota, berjubah, dan duduk di atas singgasana. Di bawahnya terdapat rupang kecil, seperti melambangkan pengawal tokoh tersebut.
Rupang Dewa Pengobatan Poo Seng Tay Tee yang pernah diarak ketika terjadi wabah malaria di Semarang, 118 tahun silam. -Julian Romadhon-HARIAN DISWAY

"Beliau ini Poo Seng Tay Tee. Dewa Pengobatan. Anda tahu usianya berapa?" tanya Andre. Sebelum dijawab, Andre tersenyum dan memberitahu Harian Disway, "Seratus tahun lebih. Tapi tidak lebih tua dari rupang Dewi Kwan Im di altar utama."

"Meski begitu, rupang ini punya sejarah panjang. Terkait wabah malaria yang terjadi di Semarang. Yakni pada 118 tahun silam," tambahnya. Saat itu, malaria menyerang ratusan warga. Banyak yang tidak selamat.

Wabah pun membuat masyarakat enggan keluar rumah. Bahkan umat tak berani pergi ke kelenteng untuk beribadah.

Karena keadaan cukup mengkhawatirkan, pengurus Tay Kak Sie pada masa itu mengutus beberapa orang untuk pergi ke Tiongkok. Demi mendatangkan rupang Poo Seng Tay Tee, Dewa Pengobatan. 

Sistem pengobatan saat itu belum memadai. Pun, tak cukup hanya mengandalkan resep obat tradisional. Maka, sisi spiritual menjadi upaya masyarakat agar wabah dapat cepat berakhir.

Dengan harapan didatangkannya rupang tersebut, mindset masyarakat menjadi positif. Sehingga memiliki semangat untuk sembuh. Juga mereka berharap pertolongan Tuhan melalui perantaraan Poo Seng Tay Tee.

Rupang itu berhasil didatangkan dari Tiongkok. Saat itu, kapal mereka berlabuh di Dermaga Bong Lama (sekarang Kampung Melayu), Semarang. Kemudian dibawa dengan berjalan kaki menuju Tay Kak Sie.

Kategori :