Maafkan aku yang menyerah.
Aku sudah berjuang.
Aku sudah sangat berusaha.
Aku mohon, Aku mohon.
Aku tidak sanggup lagi. Bila harus menanggung lebih lama lagi.
Aku berjuang sendiri. Tidak ada yang menolongku.
Aku tidak ingin sesakit ini lebih lama lagi.
Semoga Tuhan mengampuniku. Tuhan, aku sakit.
Aku mohon tempat aku pulang.
Dari tulisan itu, polisi yakin, ada sesuatu yang menekan psikologis korban. Sesuatu itu bisa berupa bullying oleh senior.
Kombes Irwan: ”Kami sudah membentuk tim untuk menggali informasi terkait adanya dugaan perundungan. Tim sedang bekerja. Minggu ini akan lakukan pemeriksaan di circle, teman-teman, orang tua, sahabat yang bersangkutan.”
Kapolsek Gajahmungkur Kompol Agus Hartono kepada pers mengatakan, ”Ibunya memang menyadari anak itu minta resign, sudah nggak kuat. Sudah curhat sama ibunya. Satu mungkin soal sekolah, kedua mungkin menghadapi seniornya. Seniornya itu kan perintahnya sewaktu-waktu minta ini itu, ini itu, keras.”
Begitulah pernyataan polisi. Pastinya tidak gampang membuktikan bullying di level tersebut. Setidaknya, tidak segampang mengungkap bullying terhadap pelajar SD, SMP, atau SMA. Ini tingkat dokter spesialis.
Pihak Ikatan Dokter Indonesia mendorong polisi menyelidiki penyebab kematian dr Aulia. Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Moh. Adib Khumaidi dalam keterangan tertulis menyatakan, ”PB IDI menghormati proses penyelidikan yang masih berlangsung oleh aparat yang berwenang.”
Banyak pihak menduga adanya bullying. Sebaliknya, pihak Undip sebagai lokasi PPDS membantah adanya bullying di PPDS. Manajer Layanan Terpadu dan Humas Undip Utami Setyowati kepada pers menyatakan:
”Mengenai pemberitaan meninggalnya almarhumah berkaitan dengan dugaan perundungan yang terjadi, dari investigasi internal kami, hal tersebut tidak benar.”